Negeriku
December 2, 2008, 5:34 pm
Filed under:
THOUGHT
Negeriku
Apakah aku ini diriku
Dan Kalau aku bukan diriku
karena diriku sudah digantikan oleh diri ragamu produksi masal
yang mana darinya masih terdapat nilai-nilai yang masih mungkin tertinggal
Bangsaku juga bukan bangsaku
Wanitaku hanya bahan dasar alat
Sebagaimana batu bara yang ditambang di desa koindustri globalisasi
Di jadikan plastik dan robot barang dagangan
Pemerintahku hanya anjing herder
bukannya dikendalikan oleh para steck holder
Merahkah ini hijaukah itu
Apakah ini baik apakah itu buruk
Ditentukan tidak berdasarkan nurani dan akal ini
Karena tidak ada paket kontrol untuk itu
Mana yang disebut maju mana yang disebut mundur
Apa yang mulia apa yang hina
Siapa nabi siapa teroris bukan hakmu untuk menentukan
Bumi kecil seukuran bola golf
Diambil dibuang Diambil dipukul atau di keranjang sampahkan
Dan bangsaku terdaftar sebagai pelacur unggul
Tergolek direnjang disetubuhi kapan saja
Steckh holder 2 menghendakinya
Sekujur badan disemprot parfum demokrasi
Kita dihibur dengan lagu dusta tentang hak asasi
Mata kita dipejamkan dengan hawa toleransi
Mulut dingangakan ikut menelan termo globalisasi
Tapi bangsaku tidak kehilangan dirinya
Kerena bangsaku yang ini sejak lahir memang juga bukan dirinya
Cobalah engkau berkaca
Apakah wajah yang kau temukan di kaca itu benar wajah manusia
Sebab di sekeliling kita yang ku kira ibu ku
Adalah tanda2 kehewanan indikator kebinatangan
Politik keserakahan
Politisasi pelampiyasan
Ekonomi keborosan
Globaliasasi keruntuhan nilai2 bahagia
Dan kalau kau bertanya tentang aku
Maka dengarlah…..!!
Pertanyaanmu itu akan aku jawab dengan sebuah kebanggaan
Aku adalah syetan
Aku adalah syetan
Yang riwayatku ditulis sendiri oleh Tuhan dalam kitab suci
Dusta dosaku Sebagai setan adalah ikrar suci
Bahwa sesunguhnya aku takut kepada Tuhan
Apakah manusia takut kepada Tuhan ?
Apakah bagi manusia Tuhan cukup penting ?
Tuhan tergeletak di belakang kulit diaspora
Cobalah engkau lihat tetangga –tetanggamu pemimpin2mu
Bagi mereka Tuhan tidak ada tidak apa-apa
Asalkan mereka terus menerus mendapatkan jabatan
Tuhan bukan subyek yang diturutsertakan dalam pengambila keputusan
Angin 12 knot
December 2, 2008, 5:31 pm
Filed under:
SAJAK
Angin 12 knot
Gelomobang mendung menyergap lampu-lampu kota
Pohon terhuyung-huyung
Dan dengan tak rela melepaskan dedaunan dari lengannya
Trotoar hampir saja di tenggelamkan
Genangan air hujan kebingungan mencari resapannya
Aah.. ada apa gerangan…..
Kenapa kau pancaroba begitu terlihat sebel
Aku memang salah tapi sedikit
Merekalah yang salah dan industrialis itu juga
Tapi kau tak mau tau
Mendung tidak lagi memberikan harapan pada tani
Datang sesukanya membuat pupuk dan urea percuma
Membuat padi tidak lagi kuning bunting berisi
Rendemen yang selalu tidak setara dengan karsa
Dan Modal menjadi selalu lebih besar dari laba.
kami selalu rindu semilir angin tapi kau datang dengan badai
kami gembira dengan mentari tapi kau datang dengan terik
Saudaraku di lereng kekeringan kesulitan air
Aku di dataran landai ditenggelamkan air
Kata ahli anu, ini pemanasan global
Aku hanya sedikit paham
Mungkin saja aku salah, tapi sedikit
Asap motor butut plus kepulan rokokku kalo mungkin disalahkan
Tapi itu sedikit…
Tapi Pancaroba kenapa kau begitu marah??
Harusnya kau marah pada orang yang tepat
Bush, Deng atau yang tidak setuju protokol ini itu
Atau paling tidak para konglomerat yang mendorong industrialisasi
Ah…. Tapi kau tak mau tau
Knalpot butut dan asap tembakauku… Itu jadi sebab??
Ah… Kau diam saja,… hanya marah dengan berlari 12 knot.
Mosaik
December 2, 2008, 5:28 pm
Filed under:
SAJAK
Mosaik
Serpihan mosaik-mosaik patah
Sepotong realitas dan selembar sejarah resah
Nasib-nasib yang tertambat gundah
Aku berdiri ragu di tengah-tengahnya
Apa…..
Bekerja menjadi jongos kemajuan atau berwira usaha…
Berpihak pada akumulasi kapital atau memeratakannya…
Beringsut kekolong langit dan membentuk kelurga kecil bahagia
Atau menembus cakrawala untuk melawan dewa-dewa Dorna…
Dan apa…… Aku pilih kau atau dia…
Apakah satu dan lainnya tak bisa bersinergi?
Ketika mosaik-mosaik ganjil tak mau berbagi
Apa karena bulan untuk malam dan mentari selalu untuk pagi?
Atau karena tertawa untuk suka dan sedih selalu mengiringi elegi.
Ah…biarlah mosaik-mosaik itu…
Menemukan takdirnya sendiri
Biarlah kau atau dia yang menemukanku
Dan aku akan selalu bergerak menyingkap takdir
Takdirku, takdir mozaik manusia setengah dewa.
Yogya 30 nov 2008
Pupuk… oh Pupuk
December 2, 2008, 4:29 pm
Filed under:
Society
pupuk… kmaren jalan ke gresik negosiasi beberapa hal terkait tentang mesin pupuk. Menyusuri komplek industri pupuk petro,sya ndak ngira ternyata petrokimia gresik komplek pabrik dan perkantorannya cukup bisa dikatakan bagus, meski masih dibawahnya pertamina. Dengan beberapa mobil mewah2 disisi bawahnya milik pejabat eselon satu pupuk itu.
Anggapan sya tentang pupuk, pertanian, yg edentik dengan gurem, miskin dan seterusnya paling tidak terbantahkan, paling tidak dalam beberapahal. Lebih menarik lagi ketika dalam perjalanan iseng2 baca jawa post & denger radio ternyata masa rendeng tani ini, justru pupuk dipasaran menghilang. beberapa petani di daerah sragen, probolinggo dsb melakukan demonstrasi dan pembajakan mobil distributor pupuk analisisnya standar, karena ada permainan di tingkat distributor dan main mata pabrik pupuk dgn distributor2 hitam. Selalu ada kambing hitam… agar yang lain bisa bersembunyi di balik itu.
Pupuk yg tadinya cuman 60rbu/karung menjadi 220rbu/karung. Permintaan musim tanam meningkat bebrbanding terbalik dengan persediaan yang hilang dipasaran.
Sya kemudian berpikir lagi ketika melihat birokrat2 BUMN Petrogress, hampir mirip dgn birokrasi dikantor2 pelayanan pemerintah. Lambat, non proaktif seperti lenichzet mobil rusia dan merasa berkuasa. Merasa dibutuhkan, mampu mengontrol segalanya,dan mampu menentukan nasib petani2 itu kayak demang2 masa kolonial.
Rasa-rasanya Ada yg ndak beres…. petani yang pada hakekatnya adalah subject inti dari kegiatan agriculture malah miskin… tapi orang petro ini,… nampaknya cukup makmur kalo di liat dari bentuk buncit perut dan lengannya yang berlemak. Para ahli tentu akan berteori masalah restrukturisasi kepemilikan lahan/land reform, nilai tmbah produk,efektifitas rantai distribusi dsb…dsb, baru petani bisa kaya. Sedangkan kenapa justru orang yg mengurusi hal “sekunder”dari agriculture malah lebih baik penghidupannya… jawabannya banyak juga dan masuk diakal bagi yg setuju.. pertanyaannya apakah adil…? jawabannya …tergantung siapa yg menjawab…
Di tahun 80an kala pupuk kimia&insektisida kimia baru diproduksi, ahli2 pertanian & kimia dari ugm, itb,ipb mendorong2 petani untuk menggunakan itu, yang tidak menggunakan dibilang cuput, konservatif, gak modern dsb2. hasil panen memang melimpah-sampe beberapa saat-.Namun demikian petani tidak selalu kaya karna bulog dan banyak instrumen pasar dari pemerintah tidak berpihak pada petani.
Sedangkan untuk intelektual2 mendapatkan overhead fee yang gak sedikit dari perusahaan2 multinasional hasil revolusi hijau (baca green revolution),pemerintah & intelektual pasar, memasarkan produk2 mereka itu, dari mulai pupuk kimia, insektisida, bibit unggul, dsb2. waktu berlalu…. dan hanya waktu yang pada akhirnya jujur….
20tahun kemudian barulah tau bahwa pupuk kimia dan insektisida merusak media tanah. Tanah menjadi asam dan bantat. sedangkan insektisida menghasilkan mutasi hama yang semakin tahan terhadap obat. Belum lagi puluhan varietas padi asli indonesia seperti pandan wangi, rojolele dsb berkurang atau bahkan hilang digantikan produk rekayasa genetika yang tidak bisa dibenihkan secara mandiri oleh petani.Pupuk tertentu & insektisida tertentu wajib bagi keberhasilan varietas unggul tertentu, sekali lagi petani di dikte,yang sinis akan berkata penjajahan jilid 2.
Bagaimana nasib petani…? seperti biasa selalu dikalahkan dan intelektual2 menara gading berbondong2 bertaubat menyesali langkah mereka dulu yang tegap bersemangat namun gegabah. cuman bedanya mereka gak ikutan miskin tetap mendapatkan project2 grend dari pemerintah, dikti, FAO, USAID dsb. untuk melakukan penelitian dalam merevitalisasi agriculture di negara2 berkembang. seperti biasa kaum menengah selalu “beruntung”. Broker dan pebisnis kayak saya selalu melihat peluang diantara masalah2 dan biasanya “diuntungkan”.
Orang yang berpikir gak jauh selalu bilang,… ah yg penting gua selamat. Padahal apabila petani yg merupakan salah komponen yang jumlahnya sangat banyak miskin melulu, maka secara multyplayer akan membahayakan kaum menengah. Kenapa…..? , karena bila mereka tidak punya daya beli, pada titik tertentu akan tidak mampu membeli produk yang dihasilkan kaum menengah seperti (baju,kue2,produk jasa kesehatan, kecantikan, elektronik,garment,pendidikan swasta,hiburan dsb2) dari industri atau mini industri, baik sektor real ataupun jasa yang pada akhirnya memacetkan sebuah siklus ekonomi pada suatu ekosistem ekonomi suatu society.Tapi selalu ada jawaban atau tepatnya apologi. ah kalo emang gak mau jadi petani ya… diekspor aja jadi TKI atau TKW toh mendatangkan devisa dan meningkatkan daya beli… kan beres. Inflasi….. ndak usah takut. Ada benernya… tapi lebih banyak salahnya. Oh iya ngomong2 TKI ada info menarik juga,TKI ternyata menghasilkan devisa 90jt
US dolar/tahun freeport gak ada apa2nya cuman 20jtUS/tahun.kita obrolin di lain waktu.
Lanjut…ke pupuk 2
Kembali ke Pupuk… pada akhirnya saya berpikir bahwa isu kemandirian pupuk memupuk pada setiap petani adalah sama besarnya dengan isu kemerdekaan petani itu sendiri. material organik yg ada di lingkungan pertanian sering kali tidak disadari petani untuk diolah kemudian menjadi pupuk. dulu waktu di singapur bagemana setiap rumah tangga di dorong untuk mampu membeli mesin pupuk organik untuk melakukan pengolahan sampah2 rumah tangga secara mandiri. Tentu dengan kualitas pupuk organik yang super dan berdaya saing. Orang kimia tentunya lebih ngerti cararnya.
Kita memang terlalu kaya hingga jarang menyadari potensi yg ada di sekeliling kita.
Rekayasa pada sisi menemukan formulasi super dekomposisi& rekayasa pembuatan pupuk mandiri dgn kualitas super menjadi sangat penting untuk mendorong kemerdekaan petani. Kampus kita apa kira2 perannya…?. Ilmu sebagai disiplin tidak memiliki tujuan dia harus deguiden dengan kesadaran ilmu sebagai bagian alam dalam mendorong kearah yang benar. orang biasa menyebutnya ideologi sebagai kesadaran dan pengetahuan disiplin sebagai alat kesadaran.
Pertanyaanya dimana letak kesadaran kita ini?? bila sudah tau apakah pengetahuan kita telah menjadi alat kesadaran itu…? jawabannya sangat relatif…
Yang jelas pilihan jenis tanaman, luas lahan, tataniaga dan rekayasa teknologi…kesemuanya harus dipilih dgn baik dan berpihak. kemudian di organisir seperti cokroaminoto dulu dengan gertasi. Hj.Misbach dengan SI merah dsb.
dari sedikit uraianku mungkin bisa dipahami, kenapa sya agak sinis dengan intelektual2 kampus. tentu kamu lebih berbaik sangka 
Pada akhirnya ketika tulisan ini akan diakhiri…, karena kantuk dalam perjalanan pulang, penulis menyadari bahwa belum ada yang penulis kontribusikan dalam konteks permasalahan ini…semoga 4JJ memaafkan orang yg tau tapi belum mampu…
dan terngianglah penggalan sajak burung2kondornya rendra…
Penderitaan mengalir di parit2 wajah rakyatku
dari padi sampai sore petani negeriku bergerak dengan lunglai
Menggapai-gapai Menoleh kekiri,menoleh kekanan
didalam usaha tak menentu…
dihari senja mereka menjadi onggokan sampah
dan dimalam hari mereka terpelanting kelantai
dan sukmanya berubah menjadi burung kondor
Beribu2 burung kondor berjuta2 burung kondor
bergerak menuju ke gunung tinggi
dan disana mendapat hiburan dari sepi
karena hanya sepi yang mampu menghisap dendam dan sakit hati
Brung2 kondor menjerit di dalam marah menjerit
Bergema ditempat2 yang sapi
Berjuta2 burung kondor mencakar batu2
mematuki batu2 mematuki udara…
dan dikota orang2 bersiap2 menembaknya…
26 nov 08
Labirin Subjek
April 14, 2008, 6:56 am
Filed under:
SAJAK
Labirin Subjek mukit hendrayatno
Ketika kesidahanku merayap aku teringkat
Engkau dan engkau
Diiringi pendaran nada shalawat Al-Burjah
Memenuhi
ruang dan langit-langit hatiku
Aku menahan resah
yang hampir membuncah
Ya… Ahmade……….
Sepertinya aku
merasakan kesedihanmu
Dilatar belakangi
umatmu yang jahil dan miskin
Terseok-seok dalam
materialisme semu
Yang meletakkan
kesadaran dibawah ketidaksadaran
Sesungguhnya
mereka tidak tahu,….
Sesungguhnya
mereka tidak tahu,….
Di dalam bisik
lembab air matamu
Kasihmu dalam
ikhtiar penyelamatan atas kami
Mungkin kau akan
berujar
” Mungkin kau
membutuhkan darahku
untuk melepas dahagamu…
Mungkin engkau butuh kematianku
Untuk meneguhkan hidupmu…
Ambillah, ambillah,…
Akan kumintakan ijin kepada Allah yang
memilikinya
Sebab toh bukan diriku ini yang kuinginkan
dan kurindukan”1
Ya… Ahmade….
Cinta manusiamu
begitu dalam dan luas
Cinta-Mu begitu
paripurna
Lalu cinta mana
lagi yang ku butuhkan
Mungkin aku masih
membutuhkan cintamu
1. sepenggal lirik lagu caknun
Cynic…
October 6, 2007, 11:03 pm
Filed under:
Society
Kemiskinan……
Uang…………..
Obsesi……………..
Harapan……………
Jalan-jalan
panjang dengan jati yang meranggas dan cemara yang tergulai lesu. Aku memandang
rumah-rumah tanpa siku dan tulangan berdiri reyot. Orang-orang tua tanpa alas
kaki berjalan mencakar-cakar dengan kuku kakinya di jalanan aspal yang
berlubang. Entah apa yang ada di dalam pikiran penghuni rumah itu, atau yang
ada dalam benak mbah kayu baker itu, semoga tidak semenyedihkan perkiraan ku,
tapi……, bagaimanapun menurut kelayakan hidup dan kesejahteraan umum, yang terus
didengungkan pemerintah tentu ukuran hidup tadi tidak layak. Akupun sedih tak
beralasan, rasanya seperti ketika patah hati pertama kali. Perih begitu saja
dan sebel.
Banyak lagi potret kemisikinan yang selalu
meilintas di kepala ku bila lagi sadar. Anak-anak yang melamuni mimpinya di
pertelon lampu merah yang berdebu, petani yang frustasi karena insektisida dan
pupuk impor yang kadung meracuni tanahnya, pengrajin makanan daerah yang
omsetnya tidak lebih dari 30.000 satu hari dengan untungnya tidak laebih dari
10.000 perhari, dan itu berlangsung puluhan tahun. Tukang beca yang
terkapar kantuk lantaran penumpang menghilang dibawa taksi dan angkot. Ratusan penjaja di kereta api ekonomi yang
tiap malam ngelembur menjajakan barang yang sama. Rokok, aqua, lamting, nopia,
pecel, kacang dan sebagainya tanpa tau inisiatif dan teori lain dari market driven, persaingan pasar,
monopoli dan dominasi. Merekapun dari tahun ketahun begitu,……miskin.
Tetangga
–tetangga ku di daerah yang mengekspor anak putrinya menjadi TKI dan
pemuda-pemudanya yang terjebak meodernitas yang ndak seimbang, ibu temanku yang
kekurangan uang untuk hidup satu dua hari dan terpaksa berkompromi dengan
rentenir. Dan kaum menengah yang selalau bermimpi untuk segera menjadi kaya
dengan menginjak dahi-dahi simiskin yang ada di bawahnya. Tapi aku bisa
apa……………..
Hampir 40 juta pengangguran yang ada di
Indonesia. Kesadaran intelektualku mengatakan ada persoalan structural
dan persoalan diri bangsa yang tak kunjung bangun. Ketidak mampuan kaum menengah
atas, yang notabennya terdidik dalam menciptakan lapangan kerja adalah salah
satunya. Tata kelola pemerintah yang
tidak memberikan ruang yang nyaman bagi pengusaha mikro juga persoalan lain
lagi. Pemerintah masih terus percaya dengan konglomerat-konglomerat hitam yang brengsek itu. Segala produk perbangkan dan asuransi terus memanjakan mereka dalam
mengeruk profit. Sebagian besar lupa dengan tanggung jawab sosialnya, sebagian
lain merusak lingkungan dengan membabi buta. Tenaga kerja dan kesejahteraan
menjadi persoalan yang tidak terlalu penting bila dibanding neraca keuangan, Return of investmen, BEP dan barang
tentu marjin……mmm I love it. Aku
sekarang mulai memahami logika itu atau mungkin juga mulai percaya,……duh Gusti
aku bisa apa………….
Intelektual-intelektual
menara gading selalu bicara dengan statistic dan grafik yang selalu di mark-up
sesuai kepentingan. Kadang angka
kemiskinan akan sengat tinggi bila sedang mangajukan proposal proyek
pengentasan kemisikinan. Di sisi lain kadang angka kemiskinan sangat rendah
bila wayahnya “Ndobos” keberhasilan-keberhasilan programnya. Aku jelas tidak
percaya..!!, selama pemuda-pemuda dan ibu-ibu tua itu limbung diperempatan dan
menyerah dengan menengadahkan tangan.
Ruang lobi dan perasmanan menjadi tempat
untuk membicarkan kemiskinan dan kelaparan. Lupa kalo perut terus diisi dengan
makanan yang seharusnya lebih di peruntukan ke objek yang sedang mereka
bicarakan. Kemiskinan seperti lagu blues
yang lesu namun cocok untuk mengiringi standing
party. Hanya menjadi lips service pembicaraan. Padahal yang selalu muncul
dalam benak mereka adalah promosi jabatan dan doa kepada Allah SWT agar 10% atau
paling tidak 3% dari nilai proyek bisa mereka ambil (standar overhead ongkos broker). Bila ditanya kenapa kok besar sekali overhead-nya maka jawabannya agar kita
dalam menjalankan tugas tidak korup. Padahal rekanan subcon proyeknyapun seudah
nge-deal 5 % untuk sang intelektual. Aku mulai tau itu dan mungkin mulai
belajar-belajar……, Duh…………. Aku bisa apa….
Yang
bekerja di perusahaan minyak atau sekelasnya memiliki tunjangan yang banyak,
gaji mencukupi dan fasilitas hidup yang aman. Setahun sekali atau lebih
menyisihkan hartanya untuk dibagikan kepada si miskin sembari berdoa dengan
khusuk untuk diterima amalnya,….. mungkin tidak tau kalo perusahaanya itu
adalah pengabdi terbaik dari materialisme dan kapitalisme. Ah……..,bukankah tidak tau dalam islam itu bisa
dimaafkan, atau mungkin aku yang terlalu sok tau. Tapi ahli ekonomi
politik itu mengatakan hal yang sama tentang kelakuan asli dari korporasi bahan
tambang, perbangkan, kayu, teknologi dan sebagainya. Pernah dengar seorang ahli ekonomi pasar yang namanya mirip gitarisnya Megadeth, Prof Molten friedmen Harvard University, dia
mengatakan alat korporasi dalam memperluas eksplorasi dan pasar adalah dengan sogok dan intimidasi. Jadi sekeras
apapun pegawai Caltex, Freeport atau bahkan Pertamina mengatakan bahwa tangan
mereka bersih, saya terlanjur tidak percaya. Buktinya Negara tidak pernah kaya
dengan keberadaan mereka-mereka itu, angka kemiskinan terus membumbung. Namun
sebaliknya mereka dan seluruh pekerjanya terus kaya. Lalu apa yang bisa ku
lakukan……mungkin aku terlalu….NAIF…..
Potongan
July 27, 2007, 5:25 am
Filed under:
SAJAK
Karena kami arus kali
Dan kau batu tanpa hati
Maka… air akan mengikis batu….
The Pathway Of Dead capital ( Pikiranku Merunut Fernando De Soto)
July 27, 2007, 5:18 am
Filed under:
Society
DEAD CAPITAL Sebuah pemikiran
Sebuah trobosan ide dari seorang Fernando de soto untuk mencari jalan keluar dari sistem pasar yang tidak bisa membuktikan tesis
awalnya.
Bila kita sedikit membaca tentang apa doktrin pertama dari kapitalisme maka
kita akan menemukan ide bahwa sistem pasar yang liberalizm pure akan
memunculkan mekanisme yang secara otomatis mapu mensejahterakan orang-orang
yang terlibat di dalamnya. Dan tidak hanya itu barnag yang dihasilkan dari
sebuah sistem pasar bebas akan otomatis berkualitas dan terus berevolusi
menjadi lebih dan lebih. Karena ide dasar dari inovasi manusia akan bisa di
dorong manakala pasar menghendaki. Inilah ide dasar dari the invisible hand of
capitalizm. Dan dengan ide inilah segala instrumen peradaban di dorong untuk
mendukung ide ini. Di Budaya kita kenal dengan Globalisasi yang artinya segala
hal "haram hukumnya" untuk dilarang masuk ke negara lain. Ekspor
budaya khususnya dari amerika dan eropha mencoba mansamaratakan tata nilai di
negara-negara lain. Tidak perduli negara itu miskin atau kayak semuanya akan
tau bahwa cantik itu seperti Britney spears dengan segala aksesorisnya. Di
bidang politik di dorong dengan kepercayaan terhadap demokrasi. Nama
"Tuhan" lain yang sangat diagung-agungkan hampir di setiap pojok dunia.
Tapi apakah semuanya itu kemudian melahirkan apa yang disebut Eudoimania atau
kesejahteraan bersama…?
Amerika adalah degara yang mengklaim dirinya berhasil menggunakan sistem
ini. dengan fundamentalis makro ekonomi yang paling mapan dan GDP yang paling
besar maka ide pasar ini mau tidak mau dipercaya oleh negara-negara lainnya.
Dulu pernah ada sosialisme yang melawannya dengan gigih. Walaupun pada akhir
70-an ide sosialisme ini tidak populer lagi.
Sebut saja China dengan Mao-nya dan Rusia dengan Lenin-nya. Keduanya pada akhirnya hanya
menggunakan ide sosialisme sebagai legitimasi kekuasaan untuk menstabilkan
kondisi politik yang pada akhirnya menstabilkan investasi/ kekuatan kapital itu
sendiri. Banyak orang yang masih berfikir bahwa perkembangan china yang dahsyat
lahir dari pada rahim sosialisme dan tentu saja anggapan itu salah besar. Sejak
masannya Deng-Xioping sosialisme dirubah menjadi "kucing" lain. Bagi
Deng tidak perduli kucing itu hitam atau putih yang penting bisa menangkap
tikus maka itu lah yang dipelihara. Dengan bahasa lain tidak penting apakah
sosialisme atau kapitalisme selama mampu mensejahterakan rakyat maka itulah
yang dipilih. Dan sosialisme china meluntur sejak itu.
Kembali ke pertanyaan pada akhir paragraf pertama dengan bahasa lain apakah
sistem pasar sudah berjalan sebagaimana mestinya?. Fakta membuktikan bahwa
hampir sedikit dari negara-negara berkembang berhasil menerapkan sistem ini.
Sebut saja Bangladesh, Indonesia,Mesir, Thailand, filiphin dan banyak
negara afrika selatan Justru mengalami jumlah angka kemiskinan manakala mereka
percaya dengan sistem pasar. Sistem pasar justru memberikan instrumen jitu
untuk orang kaya bertambah kaya dan orang miskin bertambah miskin.
Self value/ Paradigma alternativ
Dalam etik kapitalis dikenal dengan self value yakni dilai diri. Ukuran yang
dipergunakan dalam hal ini tentu pada rasionalitas pasar, yakni sejauh apa
manusia mampu mendukung perkemangan produksi dan margin. Tidak penting apakah
orang itu pembohong, cabul, mungkin psikopat dll. Sehingga dalam kapitalisme
tidak dikenal istilah buruh atau pekerja itu yang dikenal adalah satu istilah
yakni pedagang. Seorang buruh pabrik tidak bisa dikatakan sebagai pekerja
pabrik itu sehingga berhak atas tunjangan, Jaring pengaman sosial dan
seterusnya. Melainkan dia hanya seorang individu yang menjual keahlian
tangannya. sehingga dia di nilai bukan sebagai manusia yang bekerja melainkan
hanyalah tangan yang memiliki self value. lalu kemudian muncullah pekerja
kontrak, penghapusan tunjangan buruh dll, yang semangatnya tidak lain untuk
menekan biaya produksi.
Menurut penulis ide fernando de soto bahwa orang-orang miskin harus di dorong untuk "melegalkan"
kekayaannya dalam bentuk sertifikat, KTP diri dan lainya masih kurang
revolusioner. Dalam negeri yang memiliki birokrasi yang "antik"
seperti indonesia
hal-hal tersebut sulit dilakukan. kalu china bisa membuat Izin usaha selama 3
hari dan 2 jam untuk pesanan super cepat maka indonesia
akan memakan waktu 1-2 bulan. Belum sempat usaha mesti sudah bangkrut duluan.
Pemikiran fernando de soto masih
terlalu berkutat pada struktur negara sebagai satu-satunya pasar yang
terligitimasi secara publik. Di indonesia
manakala ukuran-ukuran ekonomi makro tudak bisa dijadikan dalam mengukur
tingkat ekonomi bangsa maka struktur bisa sedikit dimarginalkan. Sekali lagi
penulis katakan struktur negara bisa di marginalkan bagi para
pengusaha-pengusaha kecil. Penulis tidak sedang bicara tentang bagaimana
membuat company atau industri. tapi sedang bicara tentang bagaimana
meningkatkan kesejahteraan rakyat. Karena premis diatas tentang memarginalkan
struktur pemerintah tentu tidak berlaku untuk company atau industri yang tentu
akan memiliki implikasi lansung dengan ebijakan pemerintah.
sehingga pengembangan usaha rakyat seperti UKM bisa berjalan tanpa secara
signifikan terpengaruh kebijakan pemerintah.
kembali ke beberapa paragraf diatas tentang self value, kalau kapitaslis
hanya menggunakan ukuran-ukuran rasional positiv maka kita perlu paradigma lain
tentang self value yang secara komprehensif menilai manusia. Seperti nilai
kejujuran, kerjakeras, keuletan dan nilai -nilai produkif lainnya. Penulis
bertanya sejak kapan nilai-nilai ini tidak bisa menjadi garansi oleh orang
untuk melakukan peminjaman modal? tentu sejak perbangkan menguasai logika
ekonomi kita. Kapan? manakala kapitalisme bembang secara masif.
BMT Al-Facindo In the Case
Tawaran seperti ini bukanlah sebuah hal yang mengada-ada. Contoh kasus BMT
Al-Facindo di sebuah pojokan turi, jogjakarta memberikan pinjaman modal tanpa agunan. Garansinya adalah kesaksian masyarakat
akan kejujuran dan keuletan orang tersebut. Atau orang terebut harus aktif
pengajian sebagai ukuran kesolehan (dalam pandangan islam), dengan rekomendasi
4 ustad yang terpercaya maka orang tersbut bisa melakukan pinjaman untuk
melakukan kegiatan usahanya.Dan ini sekali lagi tidak memerlukan instrumen
pemerintah dalam meligitimasi orang tersebut. Apa anda percaya…?
Ini menunjukan bahwa kapitalisasi diri bisa dilakukan oleh orang-orang yang
tak punya modal sekalipun. Dengan penanganan yang disiplin BMT ini sekarang
sudah tersebar luas di seluruh indonesia hanya dalam waktu 7 tahun. Penulis kira tanpa berusaha membesar-besarkan contoh diatas, maka kita perlu
paradigma lain tentang modal, investasi dalam mind sate berfikir ekomnomi kita.
Mengentaskan kemiskinan adalah penulis kira bukan hanya bicara tetang pasar
modal- nilai tukar, bunga bang investasi asing. Tapi harus ada sistem lain yang
lebih dekat dengan suprastruktur masyarakat. Dan memahami kearivan kapital of
wisdom value dalam society itu.
Menggagas pemikiran de Soto bahwa bagaimanapun pengusaha kecil harus dimudahkan oleh pemerintah dalam
melegalkan kekayaan untuk melakukan peminjaman kemodal. Maka penulis meneruskan
bahwa pengusaha kecil atau mungkin teri perlu mengakumulasikan sosial cpitalnya
dengan bantuan lembaga yang memiliki ukuran lain tentang self value. Dan pasar
kalau menurut de soto adalah arus
utama modal, negara dan industri. Maka menurut penulis pasar untuk pengusaha
kecil tidak hanya itu dalam konteks indonesia.
imagination
embraces the entire world.
Mukit Hendrayatno
Sajak Joki tobing untuk Widuri….
July 27, 2007, 5:00 am
Filed under:
SAJAK
Sajak Joki tobing untuk Widuri….
Dengan latar
belakang gubug-gubug karton
Aku terkenang
akan wajahmu
Di atas debu
kemiskinan
Aku berdiri
menghadapmu
Usaplah wajahku
widuri
Mimpi remajaku gugur di atas padang pengangguran
Ciliwung keruh
wajah-wajah nelayan keruh
Lalu munculah rambutmu yang bertebaran
Kemisikinan dan
kelaparan
Membangkitkan
keangkuhanku
Wajah indah dan
rambutmu
Menjadi pelangi
di cakrawalaku
Sajak Widuri untuk Joki Tobing
Debu mengepul
mengolah wajah tukang-tukang parkir
Kemarahan merundung
di dalam kalbu purba
Orang-orang
miskin menentang kemelaratan
Wahai joki tobing
keseru kamu
Karena wajahmu
muncul dalam mimpiku
Wahai joki tobing
keseru kamu
Karena terlibat
aku di dalam nafasmu
Dari biskota ke
biskota kamu memburuku
Kita duduk bersanding
melihat kisah hidup yang kuno
Dan perlahan
tersirat darah kita
Melihat sekuntum
bungan telah mekar
Dari kebebasan
yang putus asa
Lupa, Dilupakan dan Terlupakan….
May 28, 2007, 12:10 am
Filed under:
THOUGHT
Pergulatanku dengan Lupa…
Remember,….
I will still be here
As long as you hold me….
In yours memory…
Ketika kita tidur kita tak kuasa menahan kesadaran untuk
memngingat waktu-waktu yang kita lalui di hari itu. Ketika kita merayakan tahun
baru, dasawarsa umur kita, seabad perjalanan bangsa, kita tak mampu untuk
mengingat setiap jengkal waktu yang kita lalui. Lalu kita membutuhkan media
untuk mengingatnya. Kita membutuhkan
perayaan untuk merangkai romantisme lama yang boleh jadi telah porak poranda. Lalu
kemudian lukisan-lukisan muncul, sajak-sajak di buat, liturghi-lithurgi di
ukir, monument-monument di bangun, musium-musium diletakkan di pusat kota,
foto-foto di pampang, film dibuat dan perayaan di biyayai untuk sebuah ingatan
yang selalu kalah oleh waktu….
Remember,….
Time can be transcended,
Just remember me……
Semua manusia, mahluk hidup dalam wilayah dialektika materi
akan berusaha mempertahankan dirinya dari lupa, dilupakan atau terlupakan. Lupa
memaksa manusia yang gundah membuat dirinya ada. Lalu kemudian munculah jenis
manusia yang melawan kehendak dewa. Menghancurkan kuil apollo disemenanjung
yunani, meperbudak ribuan manusia untuk membangun makamnya yang menjulang
hingga singga sana Aramon, menguasai daratan dari macedonia hingga india,
berlayar mengelilingi sepertiga dunia untuk The New Land, melibatkan puluhan
bangsa untuk berperang demi ras baru, bahkan menjadikan terbang ke bulan
memiliki makna harfiah. Semuanya diingat atau semuanya dilupakan. 100 orang
besar diingat atau 1000….? yang kita mampu ingat dalam insklopedia hidup kita,
atau dalam rak perpustakaan ingatan bangsa kita. Sementara jutaan, bahkan
miliaran telah terkapar berlalu begitu saja dikalahkan oleh lupa…
I am the one star that keeps burning, so brightly,
It is the last light, to fade into the rising sun….
Setiap sinar yang
kita munculkan adalah cahaya penghabisan yang tidak bisa kita ulang dilain
masa. Waktu terus bergerak maju. Apakah cahaya kita akan bertahan sebagaimana
matahari yang menemani sejarah umat manusia. Atau bahkan bulan yang menemani
malam-malam panjang yang kesepian. Dalam hidup yang sekali bisa jadi kita mati
berkali-kali secara eksistensialis. Memang kadang kala menyakitkan melihat
bangunan-bangunan impian kita runtuh oleh masa. Tetapi lupa melahirkan kita untuk
yang kesekian kali untuk kembali bangkit sembari menunggu kita di penghujung
penghidupan untuk dilupakan selama-lamanya. Dan Milan Kundera, Checoslovakia,
menulis ”musuh terbesar umat manusia adalah dalam melawan lupa………..”
I am that one voice, in the cold wind,
That whispers…….
As long as,
I still can reach out, and touch you,
Then I will never die………………