anak kecil
December 15, 2006, 12:56 am
Filed under:
Refleksi
Tiba-tiba tangan bergerak sendiri..memijat tombol-tombol teknologi yang lahir dari peradaban.
Kadangkala gundah itu bisa diobati oleh kata-kata mutiara, selaksa doa atau sajak.
Namun kali ini lain. saya lebih memilih memandingi foto anak-anak. Anda tau kenapa rekaman segala sesuatu tentang anak-anak atau masa kecil terkadang bisa membangkitkan senyuman kita yang purba.
Tertawanya membuat kita tertawa, senyumnya membuat kita tertawa, bahkan tangisnya membuat kita tertawa.
Boleh jadi karena kita merasa bahwa anak-anak kadang melakukan sesuatu tanpa mereka ketahui maksudnya.
Anak-anak kadangkadang menertawakan sesuatu yang tidak lucu dan menangisi yang tidak penting.
Tertawa bagi mereka tidak perlu di buat sebuah pertunjukan yang lucu. atau jok-jok saru yang seringkali muncul di box tv kita. Dan menangis bagi mereka juga tidak membutuhkan seperangkat nilai yang perlu ditimbang-timbang, kemudian dipikirkan pantaskah untuk menangis.
Begitu saja ekspresi itu muncul dan sekonyong-konyong membuat kita tersenyum…
Kelebihan mereka adalah tidak pernah takut apalagi malu mengikuti kata hati. sedangkan kekurangan manusia dewasa adalah terlalu takut mengikuti kata hati. Atau mungkin terlalu sombong dengan berpikir yang besar-besar untuk menyembunyikan kekerdilan dirinya dan keremehan pribadinya.
Bagi saya anak-anak adalah cermin yang membuat hidup menjadi senda gurau sebagaimana Quran memuatnya.
Senda gurau yang setiap guraunnya memuat takdir, perjuangan, hidup, mati dan menuntut penyelesaian.
Mengenali
December 8, 2006, 4:31 am
Filed under:
SAJAK
Dari Ramuan
gending dan gamelan yang menawan
Aku melihat
keberadaan-Mu yang agung
Dari nyanyian
biduan nada arab jawa
Engkau
sayup-sayup menyapaku
Aku Ingin
mendekap-Mu
Tapi debu yang
begitu tebal membuatku sangat malu
Miskat dalam diri
tak pernah kumandikan dengan air dzikir
Hijab-hijab
justru menjadi hiasan yang menghalangi cahaya-Mu
Aku tak mampu membalas kesucian cinta-Mu
Aku tak mampu
menjadikan diri yang ada untuk mengada
Partikel-partikel
materi yang nafsuku pertahankan menahan menghalangi
Penyatuan antara Zat pencipta dan maujud yang diciptakan
Aku begitu
gemetar
Aku tak sanggup
Aku malu
Hanya
kemurahan-Mu yaa.. Rabb
Aku berharap bagi
penerimaanku
Oleh-oleh dari jama’ah Maiyah
Teknologi dan Simbol Kemajuan.
December 8, 2006, 4:17 am
Filed under:
THOUGHT
Teknologi dan
Simbol Kemajuan.
“ Engineers have the challenges and opportunities to
create a better live in the future”
Adalah sebuah
platform bahwa teknik dan organisasi yang muncul dari rahimnya menyatakan
memiliki kemampuan untuk membuat hidup ini lebih baik. Minimal dalam
ukuran-ukuran pencapaian pendapatan dan infrastruktur yang dimiliki oleh sebuah
society. Dari perspektif di atas
dapat dikatakan bahwa barang siapa memilki teknologi maka dialah yang menjadi
yang terdepan. Sebut saja Amerika dengan intel
dan microsoft-nya, Finlandia dengan
nokia nya, german dengan otomotif dan biotech-nya, bahkan Negara miskin seperti
china dan India kini menanjak dengan prestasi technologinya.
Technologi saat
ini tidak hanya sebuah penemuan atau perangkat kebutuhan hidup manusia yang
“mati”. Melainkan technology kini telah menjadi sebuah symbol atas prestasi
sebuah bangsa. Yang berimplikasi pada kredibelitas suatu bangsa itu. Bahkan
pada sesuatu yang tidak berkaitan dengan technologi dalam pengertian khusus.
Semisal produk Amerika dianggap mesti berkualitas semisal sepatu kulit, buah,
baju bahkan hukum dan system politiknya dianggap lebih baik. Padahal relasi
antara baju, sepatu apalagi hukum jauh kaitannya dengan teknologi. Apalagi bila
kita tau bahwa, buah-buahan dari amerika itu secara kesehatan tidak baik, atau
produk spatu kulit cibaduyut tidak kalah baik dsb. Namun karena wajah
modernitas itu yang diwakili oleh tehnologi dimahkotakan kepada amerika maka
jadilah persepsi itu muncul dalam benak masyarakt dunia. Dan itu mengntungkan
bukan saja dari sisi technologi melainkan juga dari sisi ekonomi bahkan
ploitik. Boleh jadi dari analisis inilah kemudian Iran ngotot untuk melakukan pencapain nuklir sebagai symbol modernitas yang
menguntungkan itu.
Bagaimana dengan
Negara kita. Tentu jawabanyya akan terdengar sumbang. Sudahmenjadi rahasia umum
bahwa teknologi kita memble, pemerintah hanya setengah hati mendukung
keberkembangan teknologi nasonal, tidak ada paket insentif bagi pengembangan
usaha kecil yang berbasis teknologi, pemasaran yang tidak didukung, lebih
senang mengekspor buatan luar dan
sebagainya adalah faktor yang menjadikan élan
cipta insinyur kita rendah-selain tentu masalah mentalitas- Dan kemudian
orang-orang paling cerdas Negara ini terpaksa dan dengan senang hati menyerah
pada Preport, Exxon, Caltex untuk menjadi perkerja disana, atau kalo beruntung
dirayu untuk menjadi warga Negara asing seperti German dan sebagainya untuk
diabdikan keahliannya pada Negara itu.
Dari kesadaran
di atas adalah penting bahwa bangsa ini tidak harus selalu menjadi subordinate
Negara lain. Diperlukan manusia-manusia tangguh dari jenis pemuda yang mau
mengorbankan waktu dan pikirannya untuk merintis kerja-kerja besar itu. Seorang
engineers yang memiliki banyak inisiatif pantang menyerah dan siap berhasil.
Dia juga memahami realitas dan mampu membumikan cita-citanya. Sehingga keahlian
rekayasanya mampu memberikan nilai tambah bagi komoditas local
yang dimiliki. Seorang bijak berkata “ kalu anda ingin menyeberangi samudra maka
mulailah dengan satu kayuhan kecil”.
* tulisan ini unutuk raker Fam-pii
SAJAK JOKI TOBING UNTUK WIDURI……..
December 2, 2006, 3:46 pm
Filed under:
SAJAK
Sajak Joki tobing untuk Widuri….
Dengan latar
belakang gubug-gubug karton
Aku terkenang
akan wajahmu
Di atas debu
kemiskinan
Aku berdiri
menghadapmu
Usaplah wajahku
widuri
Mimpi remajaku gugur di atas padang pengangguran
Ciliwung keruh
wajah-wajah nelayan keruh
Lalu munculah rambutmu yang bertebaran
Kemisikinan dan
kelaparan
Membangkitkan
keangkuhanku
Wajah indah dan
rambutmu
Menjadi pelangi
di cakrawalaku
Sajak Widuri untuk Joki Tobing
Debu mengepul
mengolah wajah tukang-tukang parkir
Kemarahan merundung
di dalam kalbu purba
Orang-orang
miskin menentang kemelaratan
Wahai joki tobing
keseru kamu
Karena wajahmu
muncul dalam mimpiku
Wahai joki tobing
keseru kamu
Karena terlibat
aku di dalam nafasmu
Dari biskota ke
biskota kamu memburuku
Kita duduk bersanding
melihat kisah hidup yang kuno
Dan perlahan
tersirat darah kita
Melihat sekuntum
bungan telah mekar
Dari kebebasan
yang putus asa
Oksidentalisme Sebuah Semangat Perlawanan Timur
December 2, 2006, 3:42 pm
Filed under:
Society
Barat yang
diwaikili eropa secara arogan mengakui bahwa hanya ada satu kebudayaan maju di
dunia ini. Ia eropa menstandarkan sendiri makna kemajuan dan memberikan piagam
penghargaannya kepada dirinya sendiri.
Muhammad ghalib (rektor Al-Azhar)
Sebuah
kenyataan bahwa barat kini secara ekonomi lebih maju dari timur. Dan perihal
ini dipandang secara bulat-bulat oleh kebanyakan orang timur untuk seluruhnya
berkiblat kepadanya. Melalui paham developmentalism barat mengekspor ideologi
yang sepertinya tidak dapat di tolak oleh seluruh negara di dunia. Kemudian
negara-negra berkembang mengamini, lalu berjuang dengan disiplin puritan dan
sikap licik nomer satu untuk mampu maju secara ekonomi dan teknologi.
Sepertinya hal itu adalah sebuah keniscayaan atas sebuah pembangunan manusia
yang komperehensif. Berbagai kritik di lontarkan atas agama baru ini
(developmentalisme) tetapi tidak ada yang kunjung mampu menghentikan kekuatan
paham ini bahkan justru membuatnya memodisfikasi strategi yang lebih jitu lagi.
Sejak
munculnya revolusi sains hingga merubah paradigma dunia dalam memandang alam
dan segala isinya. Maka berubah pula paradigma-paradigma sosial yang ada.
Kemunculan ilmu-ilmu empirik baru dan menangnya filsafat-filsafat positifistik
mebuka gerakan dan percepatan lain bagi sejarah dunia ini. Sebut saja
copernicus, galileo, newton descartes orang-orang jenius abad pertengahan telah
memetakan dunia baru. Bagi kaum materialism terciptanya ilmu pengetahuan dan
teknologi menjadikan peluang bagi dirinya untuk melakukan eksplorasi dan
efesiensi kegiatan ekonomi. Alat digunakan sebaik mungkin untuk
mengakumulasikan kapital sebanyak-banyaknya. Dan sudah menjadi hukumnya
perilaku tersebut memerlukan tanah-tanah baru dan sumberdaya-sumberdaya baru yang
lebih kaya lagi murah3.
Selanjutnya pandangan-pandangan
merkantilisme mendorong penguasa-penguasa untuk melakukan pembiyayaan
besar-besaran atas sejumlah pelayaran dan ekspedisi.Di Spanyol Raja dan ratu
mendukung secara kuat colombus untuk menemukan dunia baru. Dengan diikuti kongsi-kongsi dagang melaui pelaut-pelaut eropa
dengan motif Gold, Glory & god. Jadi
upaya globalisasi di era kolonial diarahkan untuk memenuhi kebutuhan
negara-negara yang lebih dahulu maju dengan mengeksploitasi negara atau daerah
yang lebih terbelakang.
Globalisasi
ekonomi yang telah berakar berabad-abad terus berevolusi. Munculnya tatanan
strata sosial baru antara kaum penjajah dan terjajahpun tidak bisa dihindarkan.
Bahkan budaya superior dan inferiorpun muncul sebagai konsekuensi logisnya.
Universalisasi nilai, ukuran dan ideologi dipaksakan masuk dalam budaya
bangsa-bangsa terjajah yang menyebabkan akulturasi yang tidak seimbang. Situasi
yang demikian menyebabkan pribumi secara tidak sadar dan berangsur-angsur mulai
memberikan legitimasi kepada penjajah untuk kemudian mengakui bahwa dirinya adalah
subordinat dari kaum emperialis. Dari situ mulailah “pendiktean” atas tradisi,
moral dignity, dan pola pikir bangsa-bangsa terjajah. Yang oleh Gramsci disebut
dengan istilah hegemoni.
Fundamentalis Islam Sebagai Reaksi Atas
imperialism.
Tidak ada
sesuatu yang sempurna, termasuk imperilisme sekaligus hegemoni yang ada di
dalamnya. Ketersumbatan kaum terjajah dalam mengakses hak-hak hidup sebagai
individu dan sosial menyebabkan beberapa dari mereka berfikir tentang
kebebasan. Sedangkan catatan kegemilangan islam memunculkan romantisme sejarah
tersendiri bagi umat islam. Romantisme tersebut memberikan energi perlawanan terhadap
penjajah yang notabennya orang-orang non-Muslim.
Dalam konteks
ini Islam sebagai agama menuntut sebuah pencarian atau legalitas dengan asumsi
bahwa setiap aksi,sistem, atau negara harus berdiri diatas konsepsi atau
gagasan sebagai landasan dasarnya. Hal ini jelas tidak diijinkan oleh kaum imperialis.
Seperti juga negara kapitalis yang berasaskan kebebasan dan negara-negara yang
berhaluan sosialis melandaskan atas konsep “keadilan sosial”. Negara islam yang
di idami-idamkan, juga harus berdiri
diatas legalitas islamnya. Disinilah fundamentalisme islam dalam salah satu
makannya berupaya memformulasikan leglitas ini5. Kemudian merealisasikannya
di tengah kepungan kepentingan imperialis dan ideologi-ideologi lainnya.
Dari beberapa kalimat paragraf
diatas jelas bahwa fundamentalis islam tidaklah identik dengan konservatif,
terbelakang dan menentang peradaban modern seluruhnya. Fundamentalis juga tidak
bisa dituduh selalu menggunakan cara-cara anarkis dan machievalis dalam
pencapaian tujuannnya. Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa kebanyakan dari
doktrin perjuangannya bersandar pada nilai-nilai islam yang Pro dalam
pembangunan kesadaran berbangsa, membangun kesadaran berpolitik, melestarikan
budaya arab, menyerukan kebersihan dan bahkan beberapa pemikir yang dianggap fundamentalis
(seperti Alafghani,Rasyid Ridho, Al-Kawakibi,dll) menulis tentang toleransi dan
saling bekerjasama, serta menyerukan persaudraaan dan cinta kasih6.
Sehingga fundamentalis islam dalam perspektif umum yang kini di amini, lebih
merupakan istilah yang diciptakan barat dalam mendeskriditkan gerakan-gerakan
islam yang notabennya berusaha menuntut haknya sendiri.
Oksidentalisme melawan neo-imperialism
Sudah
kita fahami bersama bahwa bentuk-bentuk imperialism telah berganti bentuk
menjadi neo-imperialism. Soekarno 50 tahun memberikan ungkapan atas hal ini
dihadapan negara asia-afrika, bahwa: colonialism
has also its modern dress, in form of economic control and actual physical
control by a small but alien community within a nation”.7 Imperialis
hanya berganti baju, kalau dulu dengan meriam dan pistol kini baju barunya
adalah sebuah paham atas pembangunan dan kemajuan. Dengan globalisasi sebagai
topengnya untuk menyembunyikan taring-taring kapitalisme.
Dalam terminologi ekonomi Doktrin
Gramsci mengatakan bahwa negara-negara terhegemoni akan melahirkan budaya
kaum-kaum subordinat. Sedangkan negara kuat selalu menguniversalisasikan
nilai-nilai yang dibawanya baik melalui tradisi intelektual ataupun cara-cara
kekerasan sekalipun. Kritik model ini tidak hanya gramsci, dalam teori
dependensinya Andre Gunder Frank bahwa hubungan antara negara pinggiran dan
negara pusat akan menghasilkan pembangunan keterbelakangan atau The Development of Underdevelopment8.
Dan tentu diikuti oleh keterbelakangan dimensi lainnya.
Dalam
terminologi sosial budaya hegemoni akan memunculkan rendah diri bagi bangsa
client bahkan untuk sekadar menengadahkan muka. Selanjutnya kekerdilan itu akan
menjangkit pada nalar dan logika yang merunduk-runduk dan berkiblat pada barat.
Lupa dengan aksioma-aksioma agamanya, lupa dengan tradisi dan budaya bangsanya.
Kekagumannya pada yang baru membuatnya terengah-engah untuk maju dan pada suatu
titik dia lupa menengok kebelakang lalu lupa pula tujuan apa yang akan dicapai.
Terkait dengan itu maka perlu
dimunculkan sebuah semangat restorasi paradigma. Sebuah semangat yang mampu
memetakan diri sebagai keutuhan manusia
dan “orang lain” sebagai keutuhan yang lain pula. Semangat yang tidak mencampur
adukan nilai-nilai, kultur, budaya, dan metode intelektualitas sampai pada
batasan tidak mampu mengenali dirinya sendiri. Sehingga perlu memunculkan
sebuah sikap dan bagi seorang muslim adalah sikap islam terhadap tradisi barat
dengan istilahnya Hasan hanafi adalah Oksidentalisme.
Oksidentalisme bagi Hasan Hanafi merupakan suatu
upaya menandingi Orientalisme (baik yang clasic ataupun moderat.pen) sebagi
kaki tangan imperialis. Kemudian meruntuhkannya hingga ke akar-akarnya. Untuk
mengembalikan citra Islam, ia (Oksidentialis) memberikan jalan dengan melakukan
reformasi agama, kebangkitan rasionalisme dan pencerahan. Selanjutnya dijelaskan
bahwa Oksidentalisme adalah materi utama yang tidak tinggal pakai. Sebab
ia merupakan hasil penggambaran egoterhadap the other. Bukan dekripsi the other
atas dirinya yang kemudian ditranformasikan oleh ego. Ia dihasilkan oleh upaya
kreasi ego. Bukan oleh keringat the other. Ia Oksidentalisme ingin menghapuskan eurosentrisme. Menjelaskan
bagaimana kesadaran eropha kembali kebatas alaminya yang selama ini menyebarkan melalui media ekonomi dan budaya9.
Oksidentalisme
sebagai semangat perlu kita amani walaupun sebagi dasar berpikir tentu
memerlukan telaah yang lebih jauh. Dalam menafsirkan reformasi Agama dan
reformasi pemikiran untuk kemudian di formulasikan, tentu setiap gerakan islam
memiliki penafsiran dan metode sendiri-sendiri. Dan bukanlah Osidentalisme-nya
Hasan Hanafi yang dijadikan rujukan atas itu.pen
Oksidentalisme
sebagi sebuah semangat mendorong setiap muslim berani untuk duduk sama redah dan
berdiri sama tinggi dengan barat. Tidak lagi perasaan minder muncul ketika berbicara dengan orang barat.
Memunculkan keberanian, seberani Hatta ketika berpidato di konfrensi meja bundar,
segagah soekarno ketika menghujat keburukan barat beserta varian-variannya. Dan
sebaik Said Quthb dalam mencerna pemikirannya. Sehingga Jauh dari keterjebakan
reaksi atas suatu aksi dengan Mencemooh konklusi tetapi menerima
premis-premisnya. Kejelian seperti ini diperlukan agar mampu memetakan Al Ana (ego) dan Al akhar
(other) dalam wilayah sosial, ekonomi politik dan kebudayyaan kemudian memunculkan
semangat
Atturas
Wa
tajdid ( tradisi dan pembaruan)
Pada
gilirannya kebanggaan atas tradisi dan keterbukaannya melihat kebutuhan
realitas zaman, melahirkan sebuah elaborasi sikap dan ilmu yang sesuai dengan
kebutuhan masyarakatnya. Dengan berlandaskan pada nilai-nilai islam yang
berketuhanan, berkeadilan dan bersandarkan pada kemaslahatan bersama.
Merunut
semangat di atas, dalam melawan neo imperalis dengan kendaraan ekonomi
politiknya, maka seorang muslim dalam berekonomi tidak lagi condong pada
semangat kapitalistik yang jauh dari keadilan. Karena kesadarannya memberi tahu
bahwa kapitalisme tidak akan tercerabut dari tubuh umat islam Selama masyarakat muslim masih terintegrasi dengan
kapitalisme global. Dalam berpolitikpun tidak lagi menggunakan cara-cara
marchiavelis dengan menghalalkan segala cara. Termasuk Sampai pada melakukan
lompatan-lompatan ideology demi manuver politiknya.
Neo-Imperalism akan selalu masuk dan bercokol Dalam jiwa-jiwa terjajah
yang pragmatis dan kerdil
Refensi:
§ Hasan Hanafi,1989, Aku bagian dari
Fundamentalisme islam
§ Hasan Hasnafi, 1987, Oksidentalisme
§ Thomas khun, revolution sains
§ Arief Budiman, 2000, Teori pembangunan dunia
ketiga
§ Soetopo,…….., kritik gramsci atas pembangunan
dunia ketiga
§ Mubiyarto, 2005, ekonomi pancasila.
POLITIC
December 2, 2006, 3:38 pm
Filed under:
Society
Politik* Komsat 24 September 2005
Islam adalah suatu fenomena agama dan politik karena pembangunannya seorang nabi, yang juga seorang politikus yang bijaksana ataupun negarawan.
Prof strohman (inscyclopedya brithanica)
Dalam kesempatan ini. Dengan segala keterbatasan, saya akan mencoba menjelaskan seputar politik secara umum dan korelasinya dengan islam.
Dahulu sebelum masehi seorang filsuf besar, aristoteles melihat sebuah fenomena dalam polis (kota) mayarakat yunani ketika itu. Sebuah perilaku kumpulan orang yang mnemiliki kecenderungan mengorganisir diri dan melakukan penataan “kekuasaan” diantara satu dengan yang lainnya. Dari situlah kemudian dia menuliskan sebuah buku masrur yang diberi judul Politics.
Dalam kamus besar filsafat barat disebutkan bahwa politik berasal dari kata politikos yang berarti menyangkut warga negara atau politeik (kewargaan). Disebutkan juga secara terminologi politik berkaitan dengan pemerintahan, pengelolaan kebijakan negara, menyanmgkut perilaku manusia dalam kehidupan berkelompaok. Dari banyak definisi yang saling berhubungan tersebut disebutkan bahwa tujuan akhir politik adalah mencapai Eudoimania ( kesejahteraan bersama). Dan pada perkembangannya politik diartikan sangat luas meliputi sejarah, filsafat, hukum dan ekonomi……….(cheppy)
Poltik berbeda dengan ilmu politik. Politik lebih diartikan pada sisi praktis dan tidak harus terikat dengan metodologi dan kaidah-kaidah ilmiah. Tidak selalu juga diartikan degan partai politik, negara dan kekuasaan. Bahkan mengibarkan bendera negara atau menggunakan bahasa indonesia bisa jadi diakatakan sikap politik. Selanjutnya politik biasa dimaknai pada sisi hubungan anata manusia dan struktur dengan segala ornamentnya yang dimunculkan dari perilaku manusia tersebut. Sedangkan ilmu politik setidaknya diartikan sebagai ilmu dalam makna universal dalam mempelajari kehidupan negara yang merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.(J Barent) Bahkan ada yang mengartikan ilmu politik merupakan usaha memepertajam pengertian tentang politik itu sendiri.(Cheppy hary cahyo). Tentu dengan menggunakan metode-metode dan kaidah-kaidah ilmiah. Seperti bagaimana terbentuknya negara, asal muasal lembaga negara dan sebagainya.
Dalam diskusi kali ini kita akan lebih menekankan pembicaraan pada seputar poitik bukan ilmu politik.
Sekilas Tentang Paradigma Politik
Meski terminologi politik sendiri datang dari yunani kemudian dipopulerkan oleh para pemikir barat. Namun secara umum islampun memiliki konsep tentang politik.
Tentu muncul sebuah pertanyaan
Apa perbedaan politik islam dan politik barat?
Pada level paradigmatik bila kita mengok sejarah pemikiran barat tentang politik maka kita akan menemukan sebuah perbedaan yang mendasar dalam politik. System politik dibarat dimulai pada abad 16 M dibangun atas dasar ketidak percayaan antara satu kelompok dengan yang lainnya. Speperti anatara rakyat dan penguasa. Pergeseran yang terjadi dalam krangka teoripun tetap saja tidak merubah paradigma suudzon yang ada. Sebut saja Thomas Hobbess dan Grotius penggagas kemutlakan kekuasaan. Meereka berpendapat bahwa legitimasi dimiliki mutlak oleh penguasa tanpa memerlukan legitimaasi dari rakyatnya. Karena sadar tidak sadar rakyat membutuhkan sebuah institusi untuk menekan mereka agar tidak kacau karena pada dasarnya manusia adalah serigala bagi manusia lainnya (homo homini lupus). Selanjutnya perdeebatan mengenai system politik terus berlanjut dan penentang dari pendapat yang pertama adalah john lock.
John lock menyerukan bahwa setiap diri dari manusia memiliki hak-hak alamiahnya dan adalah tidak mungkin bila sebuah kekuatan “tanpa kontrol” mampu menjaga hak-hak tersebut. Idenya adlah pada dasarnya kekuasaan menyimpang sehingga perlu di buat sebuah poros kekuatan lain dalam sebuah sistem politik. Selanjutnya ide ini dilanjutkan oleh montesque dengan trias politikannya. Dari sini bisa kita lihat bahwa paradi\gma dari teori yang dibangun adalah azas ketidak percayaan. Antara lock dan hobbess sama-sama menggunakan paradigma tersebut. Hobbess tidak percaya bahwa masyarakat akan teratur bila diberi kebebasan sedangkan lock tidak percaya bila kekuadsaan diberi kebebasan untuk berkuasa.
Lalu pertanyaannya bagai mana dengan islam?
Di dalam islam paradigma yang dibangun adalah perasaan berbaik antara satu muslim dengan lainnya, berbeda dengan homo homini lupus islam mengajarkan bahwa muslim denga satu dengan lainnnya adalah saudara bahkan kecintaan akan saudara sesamanya merupakan bukti keimananyya kepada Allah. Hal tersebut diperkuat juga dengan hadist yang menyebutkan bahwa itsar (mengorbankan kepentingannya demi kepentingfan muslim lainnya) di hargaio sangat tinggi dalam islam. Itsar disebutkan sebagai tingkat tertinggi keimnanan seorang muslim.
Sedangkan dalam kondisi dimana tatanan yang berjalan dengan baik, rakyat wajib mengikuti perintah pemimpinnya.
“ Hai Orang-orang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul9Nya) dan Ulil Amri diantara kamu” (annisa 59).
Dan hal ini dikuatkan juga dalam hadist rasullullah
“ Kamu harus selalu dan mendengar dan taat kepada penguasa baik dalam hal yang sulit, menyenangkan, dan menjemukan. Walaupun ia tidak memeperdulikanmu”
Dalam hadist lain diceritakan ketika salamah menaynakan poerihal pemimpin yang tidak memenuhi hak rakyatnya maka rasullullah bersabda Dengar dan taatilah mereka! Sesungguhnya sesungguhnya mereka akan dimintai pertanggung jawaban…….
Sehingga secara mendasr pada kondisi ideal rakyat harus berprasangka baik pada penguasanya. Sedangkan kesalahan yang dilakukan penguasa akan dipertanggung jawabkan kepada Allah.
Sedangkan dalam kondisi yang tidak ideal paska khulafaar rasyidin diawali peristiwa terbunuhnya usman mulailah muncul banyak teori dan perdebatan mengenai pola hubungan terkait dengan level ketaatan, legitimasi dan hubungan antara penguasa dengan rakyatnya. Dan semoga akan bisa dibahas pada kesempatan lain.
Politik Dan Dakwah Islam
Dalam islam istilah politik sering disamakan dengan istilah arab Siyasah yang berarti mengelola. Dan dalam banyak kata biyasanya kata siyasah akan digandeng dengan istilah syar’iyah. Sehingga terbentuklah istilah siyasah sr’iyah, sebuah istilah yang memiliki arti dimana politik dimaknai sebagai pengelolaan dan sar’iyah sebagai kata yang memfremkan model pengelolaan seperti apa yanfg dimaksud. Dan dalam hal ini pengelolaan yang dimaksud adalah sesuai dengan ajaran islam.
Mungkinkah politik bergandenga dengan agama islam?
Sebuah pertanyaan ini sering kali diajukan oleh para pengusung paham sekuleris dan liberal. Sesungguhnya politik dan islam adalah bukan sesuatu yang bisa dipisahkan.
Islam sebagai agama yang syamil memuat segala hal termasuk politik dan ideologi politik. Hal tersebut dapat kita amati dari sejarah Rasullulah dalam melakukan pengelolaan masyarakat di mekah dan madhinah.
Sudah tidak asing istilah masyarakat Madhani (madinah) atau sering disamakan dengan Civil Society adalah model masyarakat ideal yang dijadikan rujukan sepanjang masa. Sebuah model masyarakat dimana system egaliterian dan persamaan hak dijunjung tinggi jauh-jauh hari sebelum eropha mengenal nilai-nilai itu. Sebuah masyarakat dimana orang-orang yang berbeda ideologi dan agama bisa berkumpul dengan baik dalam suatu wilayah yang disebut madinah. Dengan piagam madhinah sebagai kesepakatan bersama dan Nabi sebagai pemimpin pemerintahan.Dari sini dapat dimaknai bahwa pagi-pagi sebelum politik didefinisikan secara “canggih” islam sudah mempraktekannya. Bahkan kutipan pernyataan Prof strohman diatas salah seorang orientaslis, menegaskan perihal ini.
Dari sedikit uraian diatas sebuah makan poltitik dapat diartiakan sebagai cara dan upaya menangani masalah-masalah rakyat dengan seperangkat undang-undang untuk mewujutkan kemaslahatan dan mencegah hal-hal yang merugikan bagi kepentingan manusia. Dan dalam konteks ini nilai yang menjadi takaran kebenaran adalah islam. Dalam salah salah suatu buku Syekh Hasan Al Banna menyatakan: wahai kaum kami, sesungguhnya ketika kami menyeru kalian, ada Al Quran ditangan kanan kami dan Sunnah ditangan kiri kami, serta jejak kaum salaf yang soleh dari putra-putra terbaik umat ini adalah panutan kami. Kami menyeru kalian kepada islam, kepada ajaran-ajarannya dan kepada hukum-hukumnya, jika seruan itu kalian anggap sebagai politik, maka itulah politik kami.dan jika orang yang menyeru kalian kepada itru semua kaliankatakan sebagai politikus.
Sehingga bila dalam sebuah tatanan masyarakat tidak sesuai dengan nilai keadilan islam, kemaslahaqtan dan beberapa nilai agung islam lainnya. Maka menjadi kewajiban seorang muslim untuk bertindak secara politis dalam rangka melakukan perbaikan-perbaikan terhadap masalah yang ada. Disinilah letak kaitan politik sebagi alat (wasilah) dan dakwah islam sebagai tujuannya (wailah wa al-hadaf). Dan dalam konteks ini tidaklah dakwah itu hanya diartikan sebagai mengajak orang untuk sholat, tahlilan atau ngaji. Melainkan mengajak manusia untuk menjadi mahkluk yang paripurna secara akidah dan bermanfaat secara sosial. Dan hal ini tercermin dari sejauh mana makna-makna sosiologis (pembebasan masyarakat dari berbagai thoghut, perbaikan negara, perbaikan masyarakat, ikut serta dalam partisipasi politik praktis secara beretika, dll) dapat diberikan oleh seorang muslim.
Ada beberapa nilai dasar akidah islam yang menyebabkan politik menjadi bagian dari islam.
1. Aqidah Islam adalah aqidah yang menyeluruh ( syumul ) Aqidah Islam yang menyeluruh membawa pengertian bagi semua aspek. Baik daripada aspek rohaniah mahupun jasmaniah. Gabungan daripada kedua-dua aspek ini memangkinkan kepada keutuhan politik dalam agama.
2. Aqidah Islam adalah aqidah yang kekal. Aqidah Islam berteraskan kepada asas-asas yang kekal . Ini berlainan sama sekali dengan sesetengah agama ataupun ideologi yang berdasarkan kepada materialisme semata-mata yang sementara seperti kebangsaan nasionalisme, ide pemikiran.
3. Aqidah Islam adalah aqidah yang sesuai sepanjang masa. Sehingga aqidah sebagai politik akan menjadi landasan yang mapan bagi politik yang terus berubah.
4. Aqidah Islam penyelamat ummat Aqidah Islam dapat menyelamatkan manusia daripada segala macam bentuk penindasan termasuklah penindasan politik. Ini adalah kerana dalam Islam itu sendiri, semua manusia adalah sama tidak mengira keturunan ataupun darjat. Sehingga Adalah menjadi kewajipan untuk menegur dan memperbetulkan penyelewengan dan penyalahgunaan kuasa yang menyebabkan penindasan dan kezaliman ke atas masyarakat dan rakyat.
5. Aqidah Islam penyusun nilai hidup Dalam aqidah Islam, penyusunan dan pengaturan nilai-nilai hidup berlaku.
Etika Politik Islam
Di dalam islam, politik diatur sesuai dengan etika yang berdasarkan syariat. sehingga struktur yang terbangun bukan hanya didasarkan kepentingan pragmatis entah kekuasaan-ansich, harta dan sebagainya. Dalam politik islam tidak hanya berpikir “bagaimana dapat apa”, tetapi diantara bagaimana dan apa ada nilai responsibelity. Nilai tanggung jawab dan amanah ketika seorang muslim menggunakan cara dalam berpolitik dan mendapatkan sesuatu dari hasil politisasinya itu.
Sehingga dalam banyak kesempatan islam mengatur berbagai hal berkenaan dengan politik. Salah satunya adalah apa yang dijabarkan ibnu taymiyah dalam kitabnya As-Siyasyah Sar’iyah fi islahir-Ra’iwar-Rai’yah. Disitu disebutkan bagaimana islam mengatur hak-hak penguasa, hak-hak rakyat, Metodologi dalam menentukan kelayakan seorang pemimpin, perilaku penguasa atas harta rakyat dan sebagainya. Dengan aturan yang demikian luhurlah, sehingga politik dalam islam terhindar dari cara-cara menghalalkan segala cara ala Marchiaveli. Dan pada akhirnya system politik islam yang terbangun dapat sesuai syariat islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, anti penghambaan, musyawarah, Komitmen terhadap moralitas islam dan terwujudnya kemaslahatan bersama.
Mukit Hewndrayatno // Makalah Politik Islam Daurah Marhalah I
PERKENALAN BLOG
Perkenalkan,
saya coba ngisis-ngisi blog ini ulisan-tulisan yang pernah saya bikin. Temanya tentang
> politik dan filsafat
> Ekonomi & teknik
> Curhat
> sedikit refleksi
> dan mungkin sajak-sajak-ku
Selamat menikmati