Kesadaran ku


Sebuah Refleksi Tentang Kemandirian Bangsa
January 5, 2007, 10:08 pm
Filed under: Society

DICTUM

Sudah menjadi sebuah diktum bahwa sebuah negara dikatakan maju peradabannya manakala mampu menciptakan  teknologi yang mutakhir. Walaupun sebenarnya persoalan peradaban itu tidak bisa selalu berbanding lurus dengan produksi teknologi. Karena persoalan peradaban adalah persoalan bagaimana manusia bisa hidup semanusia mungkin. Dan perdebatan di wilayah ini akan rumit manakala mainstream ideologi menjadi pisau analisis untuk membedah ini perihal itu.

Dari banyak ukuran tentang beradab atau tidak sebuah bangsa, ada satu ukuran turunan yang cukup fundamental dalam melihat martabat sebuah bangsa. Adalah kemandirian nilai yang mampu menempatkan sebuah bangsa untuk  berani berdiri sama tinggi dan duduk sama dalam pergaulan internasional. Sebagai mana manusia negara juga membutuhkan ruang hidup, penghasilan, eksistensi, hasrat dan seterusnya. Hanya saja negara adalah manusia dalam jumlah besar yang kadangkala memerlukan usaha serius dalam menemukan dirinya dan menemukan visi dan misi hidupnya. Dalam hal ini tidak bisa visi-misi itu disematkan oleh beberapa kumpulan elit masyarakat saja, atau beberapa teknokrat yang dianggap memahami materi zaman, atau para cendikiawan yang dianggap mampu melihat masa depan negara atau bahkan para polkitisi yang memimipin sebuah negara itu. Kemaun atas hidup itu harus ditemukan atau dibangkitkan dalam diri seluruh manusia yang menjadi stackholder sebuah  bangsa.

Kombinasi antara pemahaman filosofis atas wawasan kebangsaan dan analisis sosiologis sebagai penjelasannya. Merupakan hal yang penting untuk diketahui bagi siapa saja yang akan membangun bangsa ini. Agar tidak terjebak dalam kungkungan mainstream ideologi. Tidak terjebak dalam sosialisme absurd atau kapitalisme dengan divelopmentalizm buta. Yang satu membabi buta seolah-olah sejarah adalah berada di tangan struktur proletariat. Yang satu membabi buta percaya akan fundamentalisme pasar dan mekanisme invisible hand. Dan kalo boleh dikatakan tidak berhasil maka kedua-duanya tidak berhasil. Yang satu terlalu misikin yang lain terlalu kya tapi sama-sama kehilangan makna manusianya. Sedangkan terlalu banyak korban yang menjadi wadalnya. Kendatipun kini korban disisi kapitalisme lebih banyak dan terus bertambah. Baik secara sadar menyerahkan dirinya atau secara tidak sadar karena mengangggap kemajuan negara dominan itu bisa di tiruh seluruhnya baik secara ekonomi, politik hukum dan seterusnya. Dan akhirnya kita mengenal teori dependensia atau hegemoni-Gramsci sebua analisis tentang ketergantungan negara-negara dunia ketiga terhadap negara patronnya. Ketergantungan yang bukan merupakan sebuah pilihan. Karena tanpa negara maju  melakukan apa-apapun konon negara-negara dunia ketiga tidak akan bisa untuk tidak tergantung.

The Pathway

Setiap-kesulitan mesti  ada kemudahan, setiap penyakit ada obatnya, setiap masalah mesti memiliki jalan keluar dan tidak bisa di pungkiri juga selalu ada angin segar dalam sebuah kebuntuan usaha. Adala Iran, China, Bolivia yang memberikan sedikit angin segar itu.

Bila kita tengok bagaimana Iran dan china mampu menurunkan karakter kebangsaanya dalam menjawab tantangan zaman. Kita akan tahu bahwa setiap negara memeiliki metode dan keyakinannya sendiri-sendiri dalam mencari jalan keluar tersebut.

Iran adalah negara yang berpenduduk 60 juta jiwa. Dengan homogenitas kepercayaan dan ideologi. Negeri yang dalam mainstream sejarah islam disebut syia’ah ini menggemparkan seluruh belahan dunia. Terutama dalam penyikapnnya terhadap persoalan poitik dunia. Sebelum revolusi iran di tahun 70-an kita akan melihat iran sebuah bangsa tidak bisa dikatakan baik. Kepercayaan tentang mahdiisme dan mistisisme imam (gelar kepemimipinan ulama) malah justru membuat iran stagnan dan tidak memiliki perkembangan berarti. Di tambah lagi struktur pemerintahan yang berbentuk monarki absolut juga persoalan besar lain, dimana korupsi dan gaya hidup kerajaan yang cukup mewah menambah beban bagi kemajuan iran sendiri. Tafsir keagamaan yang tidak merevivalisasi kehidupan rakyatnya adalah stagnasi pemikiran iran yang membuat tidak produktif. Persoalan yang sedimikian rumit ini telah berusaha diselesaikan oleh beberapa komunitas minor yang menganggap perlunya perubahan cara hidup, dan penafsiran kembali tentang ajaran agma yang menjadi basis hidup masyarakt iran.

Adalah Al-Afghani yang menjadi pelopor penafsiran kembali pemikiran tentang kebangkitan umat baik secara pribadi maupun secara komunal. Baik dalam lingkup iran ataupun dalam pergaulan internasional. Dan diawal tahun 70-an meledaklah sebuah revolusi yang dipimpin oleh seorang ulama yang bernama Ayatullah Khomeni. Majalah time mengabadikan peristiwa ini dengan headline-nya yang berjudul “Mullah chalange the Word”.

Momentum ini tidak hanya mereformasi secara struktural tetapi juga mereformasi mindset bangsa dan word view atas Tuhan, alam, intelektualitas dan masa depan sebuah bangsa. Formulasi yang diciptakan kemudian adalah membentuk sistem politik syuro dengan pemilihan president secara demokratis. Sistem pendidikan dipilih mengikuti tradisi islam dengan tidak hanya menggunakan sistem belajar mengajar secara formal. Malainkan juga sistem halakah/ perkumpulan kultural di masjid-masjid dengan guru menjadi pembimbing dan yang lain bebas menyampaikan pendapat. Reformasi pemikiran juga di gagas oleh bebrapa tokoh ulama seperti Ayatullah khomeini, Murtadhamuntahati, Taqih Misbaq, dan banyak yang lainnya. Dan yang menjadi luar biasa adalah iran tidak memilih barat sebagai referensi utama dalam mewujudkan kemandirian bangsanya. Iran tidak memilih system ekonomi pasar, iran tidak memilih mainstream developmentalizem, Iran tidak memilih sistem politik dan perundangan barat. Namun Iran secara jeli memilah-milih kelebihan barat yang bisa diadopsi tanpa merubah karakter bangsanya.

Sehingga kita bila berkunjung kekota iran akan kesulitan menemukan gedung-gedung pencakar langit dan papan iklan yang gemerlap. Kita juga akan sulit menemukan mobil mewah dan diskotik dan tempat hiburan mewah. Kita juga akan tidak menemukan kantor pemerintahan yang mewah dan sebagainya yang merupakan simbolitas dari developmentalism ala barat. Tapi di balik itu kita akan dengan mudah menemukan perpustakaan kelas internasional dan lab-lab teknologi dengan fasilitas dan produktivitas hasil karya yang baik. Iran sadar bahwa tidak mungkin menghindari globalisasi pergaulan dunia. Globalisasi harus dihadapi sebagai tantangan bangsa. Iran sadar bahwa pencapaian teknologi adalah kemutlakan bagi bangsa yang ingin berdiri dikakinya sendiri. Iran menangkap betul semangat teknologi adalah make the better living. Tapi tidak untuk satu elit golongan saja melainkan untuk seluruh bangsa.

Kini kita menyaksikan bagaimana Iran sebagai sebuah bangsa mampu menjadi mandiri. Dalam pencapaian teknologi Iran mampu mensejajarkan diri dengan negara-negara kaya. Dalam pergaulan politik internasional Iran berani menyampaikan pendapatnya dengan bebas. Dan dalam perkembangan ekonomi iran kuat bahkan ketika mengalami embargo ekonomi amerika selama 12 tahun. Ditambah lagi peran aktifnya dalam memberikan bantuan kepada negara-negara yang terkena bencana alam seperti india, indonesia dan sebagainya. Iran juga berani mengambil langkah sulit untuk membantu dan bekerjasama dengan negara-negara yang diembargo ekonominya oleh Amerika. Menjadi insaflah kita bahwa kemandirian sebuah bangsa bukan terutama terletak pada gedung pecakar langit yang megah, bukan terletak pada gaya berpolitik yang bebas, bukan terletak pada konsumsi sumberdaya yang boros, bukan juga terutama terletak pada sistem ekonomi yang mengikuti disiplin up-todate dari perkembangan ilmu ekononmi yang paling mapan. Atau bahkan tidak juga terutama pada GDP atau GNP yang tinggi. Melainkan kemandirian adalah ketika daya cipta, karya dan karsa sebuah bangsa di jadikan modal utama bagi pemenuhan kehidupan pribadinya atau dalam mensejajarkan dirinya dalam pergaulan internasional. Berani memberikan sikapnya tanpa takut dimusuhi atau di cekal akses ekonomi dan militernya.

China

Lain Iran lain pula china yang memilih merubah ideologi sosialismenya menjadi kapitalisme yang smooth. Negara besar dengan penduduk lebih dari satu miliar ini pernah percaya dengan doktrin sosialismenya Marx yang kemudian di praksiskan oleh Lenin lalu di implementasikan oleh Mao Zedong di  China. Pertengahan tahun 60-an adalah masa dimana china diajak oleh pemimpin besar Mao untuk melakukun revolusi budaya. China yang berbentuk kekaisaran dan struktru sosiologis yang berumur ribuan tahun dirubah secara radikal dengan doktrin Sosialis ala Mao. Ini memungkinkan karena struktur politik lama tidak pula mampu menciptakan kehidupan rakyat yang makmur. Gelombang sosialisme dunia menerjang china, yang pada akhirnya di Tangan Mao menjadi ideologi china. Perubahan besar-besaran terjadi pada setiap kepercayaan dan segala cipta budaya lama. Selurh rakyat diajak percaya dengan cita-cita pemerataan. Rakyat diminta dan dipaksa untuk berkorban bagi rezim proletariat yang nantinya pada suatu saat akan mencapai masyarakat yang rata/ masyarakat komunis.

Beberapa penggalan cerita menyampaikan betapa powerfull-nya seorang Mao dengan sosilismenya. Struktur rezim yang dilegitimasi oleh ideologi atas nama kebersamaan mampu mencengkram seluruh dimensi kehidupan rakyat. Semuanya harus sosialis dari musik, sastra apalagi politik semuanya harus memunculkan nada Do sama dengan koumis. Yang tidak setuju akan berakhir di tiang gantungan atau dieksekusi secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi.

Sebagaimana John Lock percaya bahwa kekuasaan pada dasarnya menyimpang. Begitu pula rezim Mao yang terlalu kuat akan menyimpang pula. Atas nama kebersamaan rakyat di korbankan. Jutaan rakyat kelaparan karena mengikuti seluruh program yang dicanangkan pemerintah. Sebuah contoh, pernah suatu ketika Mao mencanangkan Bulan besi dan baja. Karena ketika itu china membutuhkan itu untuk memperkuat militernya dalam perang dingin. Maka seluruh rakyatnya harus menyumbangkan kemampuannya untuk dapat merealisasikan itu. Pemuda yang memiliki tenaga bekerja di pusat penambangan. Sedangkan keluarga miskin yang tak punya uang untuk mengganti harus pula menyerahkan barang rumah tangganya yang terbuat dari logam. Panci, sendok, garpu yang terbuat dari logam disita demi memenuhi kebutuan program pemerintah. Sedangkan yang melawan berarti tiang gantungan karena dianggap melemahkan cita-cita bersama. Mao lupa satu milliar rakyatnya tidak semua seperti dirinya, tidak semua rakyatnya mau berkorban dan faham sosialisme marx seperti Mao. Pada akhirnya kelaparan yang meluas dan kepemimpinan mau yang menurun dan perang dingin yang hampir usai memaksa pemikiran ulang tentang sosialisme china.

Setelah Mao meninggal di pertengahan 70-an. Muncullah pemimpin baru Deng Xio ping. Seorang didikan Mao yang tidak percaya seluruhnya Doktrin Mao. Deng tidak memaksakan dirinya untuk mengikuti sosialisme yang selama ini terbukti justru menyengsarakan rakyat. Bagi dirinya yang memiliki haluan sosiallisme yang lebih pragmatis, tidak penting apakah sosialisme atau kapitalisme yang penting adalah bagaimana memberi makan rakyat kini yang sedang kelaparan. Pepatahnya yang paling terkenal yang menunjukan bahwa dirinya bukanlah seorang politisi aliran menyebutkan “tidak penting kucing itu hitam ataupun putih asal dia mampu menangkap tikus maka kita akan pelihara”. Sebuah pepatah yang menunjukan bergesernya sosialisme china atau lebih tepatnya perubahan sosialisme china.

Di tangan Deng China menjadi negara yang sangat terbuka dengan pihak asing. China kini sadar bahwa menutup diri secara radikal malah justru menjerumuskannya kedalam kesulitan. Dengan modal kekayaan alam yang berlimpah dan sumber daya manusia yang banyak dan murah. China memulai membuka dirinya dan memastikan dirinya untuk menjadi saurga bagi investasi. Model birokrasi dan kebijakan politik yang longgar bagi investasi asing seperti karpet merah yang siap menyambut tamu terhormat. Effesiensi administrasi bagi investor sangat diperhatikan untuk pendirian usaha. Segala macam kewajiban administrasi investor di buat semudah mungkin. Muncullah kawasan-kawasan industri teknologi yang luar biasa. Di tambah lagi gedung-gedung pecakar langit dan papan reklame yang gemerlap. Eksekutif-eksekutif muda baru dengan limosinnya. Simbol dari kemajuan china yang mencengangkan.

Namun kesadaran china tidak hanya sampai pada pertumbuhan ekonomi saja. Dia sadar bahwa bila hal ini tidak di barengi dengan kebijakan lain maka negaranya akan tergadai oleh kekutan kapital dunia. Sehingga di awal pembangunannya china membeli banyak hakcipta. Tujuannya adalah agar bangsanya dapat menciptakan sendiri barang-barang dengan value teknologi. Dengan demikian negaranya tidak hanya menjadi transit dari perakitan teknologi asing. Melainkan juga secara bertahap mengimbangi teknologi yang dunia untuk kemudian menciptakan sendiri dan menjadi komoditas yang sarat value. China juga sangat memperhatikan kemajuan pendidikannya karena tanpa itu bangsanya takkan mampu mengawal perkembangan ini. Kita sering mendengar bagaimana para ilmuwan china kini berada di seluruh dunia untuk mempelajari ilmu dan teknologi untuk diberikan bangsanya. China juga tidak melupakan konfusionisme sebagai pondasi kepercayaan masyarakatnya. Dengan merevisi tafsir sebagaimana yang dilakukan iran jadilah konfusionisme ajaran yang progresif yang mendukung kemajuan bangsannya.

China dengan pertumbuhan ekonominya hingga 10 % pertahun dan iran dengan nuklir dan kesedeerhanaanya menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan dunia. Ada nilai di kedua negara itu yang menjadikannya bermartabat. Yakni kemandirian dalam menentukan masa depan bangsanya. Kalau Iran dengan kekuatan homogen bangsa, minyak dan nuklirnya. Maka china dengan produksi masal barang elektronik yang murah yang sulit dikalahkan. Keduanya memiliki kearifan sendiri dalam menentukan masa depannya. Tetapi bukan juga keduanya tanpa kekurangan. Baik China ataupun Iran keduanya juga punya kekurangan. Misal china dimana sisi lain dari kemajuannya menciptakan kesenjangan sosial baru antara mayarakat kota dan desanya. Atau Iran yang dianggap menimbulkan perpolitikan dunia menjadi memanas. Dengan demikian bagaimana kita sebagai bangsa melihat fenomena itu kita jadikan bahan pelajaran. Yang baik dan yang memungkinkan kita contoh tentu dengan kearifan kita sendiri. Dengan kearifan inilah kita terhindar dari semangat menjiplak secara mebabi buta.




2 Comments so far
Leave a comment

aduh kang..pusink bacanya..ini blog pa koran siy,hehe:p

   HarDRiDerz 01.06.07 @ 11:25 am

I just want to take some money! :)
Press here

   Awardandy 10.02.08 @ 7:01 pm



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>