For Exist
April 29, 2007, 3:43 am
Filed under:
SAJAK
FOR EXIST
Cause the
power is
not mine
And all I couldn’t taste is this moment,
And all I couldn’t breathe…..
‘Cause sooner or later it’s over,
I just don’t want to hiding
From beneath of the dark sky
Night time comes so late
I’ve been waiting for wonderful dream
And carry’s me to stranger place
Take the flawless mercy
You know who I am, Don’t you?
When you faced my mistake as ashes
And memory couldn’t cover by pine
Fracture…..!
But I attended to link again
My imagines are running deep
But at same time my feeling is gone
God give me the power to take breathe from braze
And call life from stillness for the immortality soul
mukit’s poem/di sore yang mengintimidasi
JUARA
April 18, 2007, 1:36 am
Filed under:
THOUGHT
Dalam pertandingan……………
Haya ada satu pemain yang bermain
dengan tenang…
Dan memenangkan pertandingan……
Sebuah falsafah yang menarik yang menganggap bahwa hanya pemain yang
memiliki ketenangan lembah yang pantas disebut pemenang. Dalam hidup semua orang
bertanding. Berkerumun, berkejaran seperti semut-semut yang berbaris rapih
ketika mencari makan dan membawa kesarangnya manakala mendapatkan makanan.
Tetapi pertandingan yang kita hadapi diatur oleh seperangkat hukum-hukum
alamiah yang memerlukan sebuah basirah
untuk dapat mengetahuinya. Diperlukan ketenangan untuk mematuhinya. Dan
diperlukan wisdom untuk mencapai
kemenangannya.
Setiap bagian dari hidup memiliki tempat-tempat untuk bertanding. Di
rumah kita bertanding untuk menjadi penghuni yang baik, di jalan kita
bertanding untuk memeatuhi marka dan lampu merah. Lebih luas lagi kita
bertanding memacu diri melewati rintangan yang kadangkala tidak mampu dilewati
orang lain. Adalah juara yang memiliki stamina dan ketenangan diatas rata-rata.
Mampu memikul beban dan menahan nafas lebih lama dari kebanyakan orang. Bukan
lantaran dia ingin dilihat lebih baik atau lebih gagah dari yang lain. Atau
bersumpah atas nama negeri, ras keturunan atau yang laiannya. Melainkan sebuah
perasaan manusia yang mencoba terus menjadi lebih baik dan menjadi juara.
Manusia, bahkan dirahim dia bertanding. Sebelum kita terlahir kita
bertanding untuk menjadi lebih baik dari 3 miliar calon manusia yang terpancar
mengikuti hukum-hukum Tuhan. Walaupun dengan kenes ada yang menjadi pecundang
bahkan ketika dia benar-benar secara wujud adalah manusia. Persoalannya adalah karena
tidak menjadikan kesadaran dari pengetahuan sebagai tuntunan. Nafsu, obsesi
kerdil mengalahkan kesadaran lantaran keinginan merasakan yang instant, cepat,
enak tidak perlu menunggu. Padahal yang instant, kenikmatannya tidak lebih
sampai tengorokan saja.
Kita harus menentukan dimana kita bertanding. Memilih lawan-lawan yang
memang pantas kita lawan. Mendekati orang-orang yang memang pantas dijadikan
teman,. Dan memilih lapangan dimana kita dengan bangga mencucurkan keringat bila
perlu air mata dan darah. Dalam pertandingan tidak mungkin semuanya kita
jadikan teman atau sebaliknya. Sudah hukum-hukum alamiahnya ada yang tak senang
dan dengan sadar memposisikan kita menjadi lawannya, atau kita memandang orang
lain yang memang pantas kita jadikan lawan. Kehormatannya adalah terletak
bagaimana perjuangan kita persembahkan pada sebuah nilai yang kita percaya
benar. Boleh jadi orang lain tidak suka tapi bukan disitu intinya.
Kalah bukan terletak pada seberapa banyak luka yang kita derita. Tapi
manakala nilai kita gadaikan untuk sesuatu yang tidak pantas kita berikan nilai
kita padanya. Urusan menggadaiakan bukan diukur dari seberapa baik pakaian anda
atau posisi anda karena orang menggadaikan biasa menggunakan apa saja dan
mengenakan apa saja. Tetapi bahwa ada sesuatu dari dirinya yang dia lepaskan,
itulah inti dari menggadai. Dan hasil akhirnya tidak lain adalah menjadi
subordinate atau pecundang yang tidak pernah dihitung dalam pertandingan.
Menjadi juara sejati perlu ongkos yang mahal. Dalam satu permainan hanya
ada sedikit juara sejati. Yang namanya selalu harum dalam sejarah permainan
itu. Karena dia tidak hanya menyelesaikan permainan. Tetapi dia juga mencatat
rekor dan yang lebih penting lagi dia menyelesaikannya dengan cara-cara indah
yang tidak bisa dilakukan orang lain.
Mr.Oumlet,.. tetap lihat kebawah…
Pukul,…. Dan biarkan bola
bergulir menuju sasaranya sendiri……
Pergulatanku (terinspirasi dari smsmu)
April 3, 2007, 9:22 am
Filed under:
Refleksi
Banyak membaca seringkali membuat manusia suka berfikir yang
besar-besar. Bicara peradaban, politik, perubahan sosial, keliling dunia dan
sebagainya.
Dulu saya berfikir bahwa setiap muslim harus memeiliki pandangan yang seperti
diatas. Itu saya anggap sikap muslim yang modern dan kaffah. Hanya kejumudan
yang membatasi seorang muslim untuk tidak mau menjelajah dunia, merubah
masyarakat dan seterusnya. Sepertinya begitu absurd bila manusia hanya
memikirkan lingkungan RT nya, kebersihan RW nya, mendidik anak, dan menjadi
tukang batu pedagang kelontong kecil-kecilan. Dengan angkuh saya berfikir
manusia-manusia yang tidak pernah diakui sejarah "being and
nothingness" antara ada dan tiada. dikatakan ada tapi tidak eksist.
Setelah melalui proses berfikir nampaknya pandangan itu mengalami perubahan.
Ada sebuah cerita yang menarik dari rendra. Suatu ketika dia menyepi di sebuah
bukit selama 9 hari. pusing dengan tujuan hidupnya. 9 hari itu pula dia mutih
sekaligus bersemedi. Dia mencoba meminta petunjuk Tuhan agar memberikan
petunjuk terhadap jalan hidupnya. Tapi apa lacur 9 hari itu pula dia tidak
mendapatkan apa-apa.
Tiada wangsit, cahaya putih,atau apapun yang bisa dianggap sebagai manifestasi
sabda Tuhan. Dia kalut dan pergi kekuburan dan melihat sebuah cahaya merah.
"setan, demit atau apa yang penting bisa ngomong!!
kalo pun setan itu akan saya dengar apa yang dia ucapkan…..
tapi ternyata cahaya merah itu bukan setan atau banaspati. melainkan hanya
seorang yang sedang membuat arang.
Bapak itu bertanya
Nak…, kamu minggat dari rumah yah…
setelah beberapa saat diskusi bapak tadi bertanya lagi sebenarnya mau jadi apa
kamu?
pertanyaan yang mudah tapi membuat rendara muda tak bisa menjawab, malah
tertegun kalut.
Rendra balik bertanya, Lah kalo bapak mau jadi apa di dunia ini.
Kalo saya dek, menjadi pembuat arang yang baik saja sudah cukup.
jawaban sederhana tapi cukup menampar kesadaran yang angkuh. Luluh-lah wacana
tentang roustrow, monet, atau menjadi pegawai mapan. dari sinilah kemudian
rendra memilih menjadi "tukang sajak" tidak lebih, tanpa harapan
terkenal,tanpa ingin eksist secara pasar. walaupun tanpa mendapatkan restu dari
orang tuanya yang priyayi.
9 hari itu akhirnya dia turun gunung karena merasa sudah mendapatkan
jawaban.sesampainya di jalan dia berjumpa dengan banyak truk arang yang
ternyata milik juragan arang yang dia temui diatas. Juragan arang yang cukup
sukses disemarang dengan lapangan kerja yang menghidupi banyak orang.
saya berkesimpulan bahwa yang membuat manusia mengada (bukan ada) itu adalah
sikap batinnya . Bagaimana dia menemukan perbendaharaan batinnya. Tidak harus
dia pernah menghirup salju alpen atau menciumi debu sinai, atau belajar di
perpustakaan frankfurt atau bahkan mencumbui wangi hajar aswad, memenangi
politik, berbicara di depan ratusan seminarist, mengkampanyekan anti perang,
persamaan gender, menciptakan teknologi tinggi, menjadi pengusaha yang
menguasai pasar international, atau membuat buku best seller. Itu tidak harus.
Ada berasal dari ketiadaan tapi
"mengada" berasal dari ada. dalam dimensi dunia manusia pada dasarnya
sudah ada tapi karena modernitas, arus perkembangan teknologi yang cepat,
perubahan struktur budaya yang cepat, demokrasi yang gak jelas, informasi yang
serba cepat, globalisasi, pasar dsb membuat kita yang ada seperti tiada.
Tertelan sejarah yang panjang, seperti setunggal debu di padang pasir. tanpa arti, sedih,absurd dan tak menentu.maka adanya kita perlu disadari
untuk "mengada".
Pencapaian "mengada" tidak harus dilalui melalui proses-proses yang
bisa terukur secara positif seperti apa posisi anda, berapa kali keluar
negeri, berapa buku yang anda buat, berapa sumbangan ke masyarakat. Itu tidak
harus. Walaupun baik juga bila proses "mengada" dicapai dengan
cara-cara diatas.
Karena demikianlah saya berkesimpulan pendalaman batin setiap manusia, penemuan
hakekat ke- Tuhanan bisa dicapai oleh siapapun. Bahkan oleh Pembuat arang, oleh
sunarti penjual kelapa muda, Udin penjual bakso, oleh tardin si tukang becak.
Kesetiannya dan refleksinya terhadap dunia dan pergulatannya dalam mengabda
bisa mengantarkan manusia-manusia ini kedalam penyerahan batin yang pari purna
kepada Tuhannya. Islam, aslamu salamah.Mereka menemukan Tuhan dalam cendolnya,
menemukan tuhan dalam keringat kayuhannya.
Tapi manusia yang pernah keliling dunia, mengisi ribuan seminar, merubah
masyarakat dsb, boleh jadi dia tidak mengada. Contoh banyak profesor yang
terbius parfum demokrasi, dihibur lagu dusta tentang hak asasi, matanya
terpejamkan dengan hawa toleransi. Mengabdi pada zaman materi yang membuat
kebahagian berada diluar dirinya. semakin dikejar semakin menderita. belum lagi
status sosial, proyek, jabatan, kehormatan membuat mereka semakin buntu.
Pilihan selalu berbeda dengan cara-cara yang besar atau dengan cara-cara yang
nampak kecil syah-syah saja, tidak ada yang lebih berharga. seperti wajah
diciptakan tentu tidak bisa dikatakan lebih berharga ketimbang telapak
kaki.Dalam ekosistem hutan, Gadjah tidak bisa dikatakan lebih berharga dari semut,
api tidak lebih berharga dari abu danseterusnya…
semangat tulisan ini sederhana sebenarnya… menghargai cara hidup manusia
lain. Baik secara kasat mata menurut ukuran-ukuran modern belum tentu baik
hakekatnya, begitu pula sebaliknya.
sebuah teori yang sulit diamalkan