Filed under: THOUGHT
Dalam pertandingan……………
Haya ada satu pemain yang bermain
dengan tenang…
Dan memenangkan pertandingan……
Sebuah falsafah yang menarik yang menganggap bahwa hanya pemain yang
memiliki ketenangan lembah yang pantas disebut pemenang. Dalam hidup semua orang
bertanding. Berkerumun, berkejaran seperti semut-semut yang berbaris rapih
ketika mencari makan dan membawa kesarangnya manakala mendapatkan makanan.
Tetapi pertandingan yang kita hadapi diatur oleh seperangkat hukum-hukum
alamiah yang memerlukan sebuah basirah
untuk dapat mengetahuinya. Diperlukan ketenangan untuk mematuhinya. Dan
diperlukan wisdom untuk mencapai
kemenangannya.
Setiap bagian dari hidup memiliki tempat-tempat untuk bertanding. Di
rumah kita bertanding untuk menjadi penghuni yang baik, di jalan kita
bertanding untuk memeatuhi marka dan lampu merah. Lebih luas lagi kita
bertanding memacu diri melewati rintangan yang kadangkala tidak mampu dilewati
orang lain. Adalah juara yang memiliki stamina dan ketenangan diatas rata-rata.
Mampu memikul beban dan menahan nafas lebih lama dari kebanyakan orang. Bukan
lantaran dia ingin dilihat lebih baik atau lebih gagah dari yang lain. Atau
bersumpah atas nama negeri, ras keturunan atau yang laiannya. Melainkan sebuah
perasaan manusia yang mencoba terus menjadi lebih baik dan menjadi juara.
Manusia, bahkan dirahim dia bertanding. Sebelum kita terlahir kita
bertanding untuk menjadi lebih baik dari 3 miliar calon manusia yang terpancar
mengikuti hukum-hukum Tuhan. Walaupun dengan kenes ada yang menjadi pecundang
bahkan ketika dia benar-benar secara wujud adalah manusia. Persoalannya adalah karena
tidak menjadikan kesadaran dari pengetahuan sebagai tuntunan. Nafsu, obsesi
kerdil mengalahkan kesadaran lantaran keinginan merasakan yang instant, cepat,
enak tidak perlu menunggu. Padahal yang instant, kenikmatannya tidak lebih
sampai tengorokan saja.
Kita harus menentukan dimana kita bertanding. Memilih lawan-lawan yang
memang pantas kita lawan. Mendekati orang-orang yang memang pantas dijadikan
teman,. Dan memilih lapangan dimana kita dengan bangga mencucurkan keringat bila
perlu air mata dan darah. Dalam pertandingan tidak mungkin semuanya kita
jadikan teman atau sebaliknya. Sudah hukum-hukum alamiahnya ada yang tak senang
dan dengan sadar memposisikan kita menjadi lawannya, atau kita memandang orang
lain yang memang pantas kita jadikan lawan. Kehormatannya adalah terletak
bagaimana perjuangan kita persembahkan pada sebuah nilai yang kita percaya
benar. Boleh jadi orang lain tidak suka tapi bukan disitu intinya.
Kalah bukan terletak pada seberapa banyak luka yang kita derita. Tapi
manakala nilai kita gadaikan untuk sesuatu yang tidak pantas kita berikan nilai
kita padanya. Urusan menggadaiakan bukan diukur dari seberapa baik pakaian anda
atau posisi anda karena orang menggadaikan biasa menggunakan apa saja dan
mengenakan apa saja. Tetapi bahwa ada sesuatu dari dirinya yang dia lepaskan,
itulah inti dari menggadai. Dan hasil akhirnya tidak lain adalah menjadi
subordinate atau pecundang yang tidak pernah dihitung dalam pertandingan.
Menjadi juara sejati perlu ongkos yang mahal. Dalam satu permainan hanya
ada sedikit juara sejati. Yang namanya selalu harum dalam sejarah permainan
itu. Karena dia tidak hanya menyelesaikan permainan. Tetapi dia juga mencatat
rekor dan yang lebih penting lagi dia menyelesaikannya dengan cara-cara indah
yang tidak bisa dilakukan orang lain.
Mr.Oumlet,.. tetap lihat kebawah…
Pukul,…. Dan biarkan bola
bergulir menuju sasaranya sendiri……
No Comments so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>