Filed under: Society
DEAD CAPITAL Sebuah pemikiran
Sebuah trobosan ide dari seorang Fernando de soto untuk mencari jalan keluar dari sistem pasar yang tidak bisa membuktikan tesis
awalnya.
Bila kita sedikit membaca tentang apa doktrin pertama dari kapitalisme maka
kita akan menemukan ide bahwa sistem pasar yang liberalizm pure akan
memunculkan mekanisme yang secara otomatis mapu mensejahterakan orang-orang
yang terlibat di dalamnya. Dan tidak hanya itu barnag yang dihasilkan dari
sebuah sistem pasar bebas akan otomatis berkualitas dan terus berevolusi
menjadi lebih dan lebih. Karena ide dasar dari inovasi manusia akan bisa di
dorong manakala pasar menghendaki. Inilah ide dasar dari the invisible hand of
capitalizm. Dan dengan ide inilah segala instrumen peradaban di dorong untuk
mendukung ide ini. Di Budaya kita kenal dengan Globalisasi yang artinya segala
hal "haram hukumnya" untuk dilarang masuk ke negara lain. Ekspor
budaya khususnya dari amerika dan eropha mencoba mansamaratakan tata nilai di
negara-negara lain. Tidak perduli negara itu miskin atau kayak semuanya akan
tau bahwa cantik itu seperti Britney spears dengan segala aksesorisnya. Di
bidang politik di dorong dengan kepercayaan terhadap demokrasi. Nama
"Tuhan" lain yang sangat diagung-agungkan hampir di setiap pojok dunia.
Tapi apakah semuanya itu kemudian melahirkan apa yang disebut Eudoimania atau
kesejahteraan bersama…?
Amerika adalah degara yang mengklaim dirinya berhasil menggunakan sistem
ini. dengan fundamentalis makro ekonomi yang paling mapan dan GDP yang paling
besar maka ide pasar ini mau tidak mau dipercaya oleh negara-negara lainnya.
Dulu pernah ada sosialisme yang melawannya dengan gigih. Walaupun pada akhir
70-an ide sosialisme ini tidak populer lagi.
Sebut saja China dengan Mao-nya dan Rusia dengan Lenin-nya. Keduanya pada akhirnya hanya
menggunakan ide sosialisme sebagai legitimasi kekuasaan untuk menstabilkan
kondisi politik yang pada akhirnya menstabilkan investasi/ kekuatan kapital itu
sendiri. Banyak orang yang masih berfikir bahwa perkembangan china yang dahsyat
lahir dari pada rahim sosialisme dan tentu saja anggapan itu salah besar. Sejak
masannya Deng-Xioping sosialisme dirubah menjadi "kucing" lain. Bagi
Deng tidak perduli kucing itu hitam atau putih yang penting bisa menangkap
tikus maka itu lah yang dipelihara. Dengan bahasa lain tidak penting apakah
sosialisme atau kapitalisme selama mampu mensejahterakan rakyat maka itulah
yang dipilih. Dan sosialisme china meluntur sejak itu.
Kembali ke pertanyaan pada akhir paragraf pertama dengan bahasa lain apakah
sistem pasar sudah berjalan sebagaimana mestinya?. Fakta membuktikan bahwa
hampir sedikit dari negara-negara berkembang berhasil menerapkan sistem ini.
Sebut saja Bangladesh, Indonesia,Mesir, Thailand, filiphin dan banyak
negara afrika selatan Justru mengalami jumlah angka kemiskinan manakala mereka
percaya dengan sistem pasar. Sistem pasar justru memberikan instrumen jitu
untuk orang kaya bertambah kaya dan orang miskin bertambah miskin.
Self value/ Paradigma alternativ
Dalam etik kapitalis dikenal dengan self value yakni dilai diri. Ukuran yang
dipergunakan dalam hal ini tentu pada rasionalitas pasar, yakni sejauh apa
manusia mampu mendukung perkemangan produksi dan margin. Tidak penting apakah
orang itu pembohong, cabul, mungkin psikopat dll. Sehingga dalam kapitalisme
tidak dikenal istilah buruh atau pekerja itu yang dikenal adalah satu istilah
yakni pedagang. Seorang buruh pabrik tidak bisa dikatakan sebagai pekerja
pabrik itu sehingga berhak atas tunjangan, Jaring pengaman sosial dan
seterusnya. Melainkan dia hanya seorang individu yang menjual keahlian
tangannya. sehingga dia di nilai bukan sebagai manusia yang bekerja melainkan
hanyalah tangan yang memiliki self value. lalu kemudian muncullah pekerja
kontrak, penghapusan tunjangan buruh dll, yang semangatnya tidak lain untuk
menekan biaya produksi.
Menurut penulis ide fernando de soto bahwa orang-orang miskin harus di dorong untuk "melegalkan"
kekayaannya dalam bentuk sertifikat, KTP diri dan lainya masih kurang
revolusioner. Dalam negeri yang memiliki birokrasi yang "antik"
seperti indonesia
hal-hal tersebut sulit dilakukan. kalu china bisa membuat Izin usaha selama 3
hari dan 2 jam untuk pesanan super cepat maka indonesia
akan memakan waktu 1-2 bulan. Belum sempat usaha mesti sudah bangkrut duluan.
Pemikiran fernando de soto masih
terlalu berkutat pada struktur negara sebagai satu-satunya pasar yang
terligitimasi secara publik. Di indonesia
manakala ukuran-ukuran ekonomi makro tudak bisa dijadikan dalam mengukur
tingkat ekonomi bangsa maka struktur bisa sedikit dimarginalkan. Sekali lagi
penulis katakan struktur negara bisa di marginalkan bagi para
pengusaha-pengusaha kecil. Penulis tidak sedang bicara tentang bagaimana
membuat company atau industri. tapi sedang bicara tentang bagaimana
meningkatkan kesejahteraan rakyat. Karena premis diatas tentang memarginalkan
struktur pemerintah tentu tidak berlaku untuk company atau industri yang tentu
akan memiliki implikasi lansung dengan ebijakan pemerintah.
sehingga pengembangan usaha rakyat seperti UKM bisa berjalan tanpa secara
signifikan terpengaruh kebijakan pemerintah.
kembali ke beberapa paragraf diatas tentang self value, kalau kapitaslis
hanya menggunakan ukuran-ukuran rasional positiv maka kita perlu paradigma lain
tentang self value yang secara komprehensif menilai manusia. Seperti nilai
kejujuran, kerjakeras, keuletan dan nilai -nilai produkif lainnya. Penulis
bertanya sejak kapan nilai-nilai ini tidak bisa menjadi garansi oleh orang
untuk melakukan peminjaman modal? tentu sejak perbangkan menguasai logika
ekonomi kita. Kapan? manakala kapitalisme bembang secara masif.
BMT Al-Facindo In the Case
Tawaran seperti ini bukanlah sebuah hal yang mengada-ada. Contoh kasus BMT
Al-Facindo di sebuah pojokan turi, jogjakarta memberikan pinjaman modal tanpa agunan. Garansinya adalah kesaksian masyarakat
akan kejujuran dan keuletan orang tersebut. Atau orang terebut harus aktif
pengajian sebagai ukuran kesolehan (dalam pandangan islam), dengan rekomendasi
4 ustad yang terpercaya maka orang tersbut bisa melakukan pinjaman untuk
melakukan kegiatan usahanya.Dan ini sekali lagi tidak memerlukan instrumen
pemerintah dalam meligitimasi orang tersebut. Apa anda percaya…?
Ini menunjukan bahwa kapitalisasi diri bisa dilakukan oleh orang-orang yang
tak punya modal sekalipun. Dengan penanganan yang disiplin BMT ini sekarang
sudah tersebar luas di seluruh indonesia hanya dalam waktu 7 tahun. Penulis kira tanpa berusaha membesar-besarkan contoh diatas, maka kita perlu
paradigma lain tentang modal, investasi dalam mind sate berfikir ekomnomi kita.
Mengentaskan kemiskinan adalah penulis kira bukan hanya bicara tetang pasar
modal- nilai tukar, bunga bang investasi asing. Tapi harus ada sistem lain yang
lebih dekat dengan suprastruktur masyarakat. Dan memahami kearivan kapital of
wisdom value dalam society itu.
Menggagas pemikiran de Soto bahwa bagaimanapun pengusaha kecil harus dimudahkan oleh pemerintah dalam
melegalkan kekayaan untuk melakukan peminjaman kemodal. Maka penulis meneruskan
bahwa pengusaha kecil atau mungkin teri perlu mengakumulasikan sosial cpitalnya
dengan bantuan lembaga yang memiliki ukuran lain tentang self value. Dan pasar
kalau menurut de soto adalah arus
utama modal, negara dan industri. Maka menurut penulis pasar untuk pengusaha
kecil tidak hanya itu dalam konteks indonesia.
imagination
embraces the entire world.
Mukit Hendrayatno
No Comments so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>