Filed under: Society
Kemiskinan……
Uang…………..
Obsesi……………..
Harapan……………
Jalan-jalan
panjang dengan jati yang meranggas dan cemara yang tergulai lesu. Aku memandang
rumah-rumah tanpa siku dan tulangan berdiri reyot. Orang-orang tua tanpa alas
kaki berjalan mencakar-cakar dengan kuku kakinya di jalanan aspal yang
berlubang. Entah apa yang ada di dalam pikiran penghuni rumah itu, atau yang
ada dalam benak mbah kayu baker itu, semoga tidak semenyedihkan perkiraan ku,
tapi……, bagaimanapun menurut kelayakan hidup dan kesejahteraan umum, yang terus
didengungkan pemerintah tentu ukuran hidup tadi tidak layak. Akupun sedih tak
beralasan, rasanya seperti ketika patah hati pertama kali. Perih begitu saja
dan sebel.
Banyak lagi potret kemisikinan yang selalu
meilintas di kepala ku bila lagi sadar. Anak-anak yang melamuni mimpinya di
pertelon lampu merah yang berdebu, petani yang frustasi karena insektisida dan
pupuk impor yang kadung meracuni tanahnya, pengrajin makanan daerah yang
omsetnya tidak lebih dari 30.000 satu hari dengan untungnya tidak laebih dari
10.000 perhari, dan itu berlangsung puluhan tahun. Tukang beca yang
terkapar kantuk lantaran penumpang menghilang dibawa taksi dan angkot. Ratusan penjaja di kereta api ekonomi yang
tiap malam ngelembur menjajakan barang yang sama. Rokok, aqua, lamting, nopia,
pecel, kacang dan sebagainya tanpa tau inisiatif dan teori lain dari market driven, persaingan pasar,
monopoli dan dominasi. Merekapun dari tahun ketahun begitu,……miskin.
Tetangga
–tetangga ku di daerah yang mengekspor anak putrinya menjadi TKI dan
pemuda-pemudanya yang terjebak meodernitas yang ndak seimbang, ibu temanku yang
kekurangan uang untuk hidup satu dua hari dan terpaksa berkompromi dengan
rentenir. Dan kaum menengah yang selalau bermimpi untuk segera menjadi kaya
dengan menginjak dahi-dahi simiskin yang ada di bawahnya. Tapi aku bisa
apa……………..
Hampir 40 juta pengangguran yang ada di
Indonesia. Kesadaran intelektualku mengatakan ada persoalan structural
dan persoalan diri bangsa yang tak kunjung bangun. Ketidak mampuan kaum menengah
atas, yang notabennya terdidik dalam menciptakan lapangan kerja adalah salah
satunya. Tata kelola pemerintah yang
tidak memberikan ruang yang nyaman bagi pengusaha mikro juga persoalan lain
lagi. Pemerintah masih terus percaya dengan konglomerat-konglomerat hitam yang brengsek itu. Segala produk perbangkan dan asuransi terus memanjakan mereka dalam
mengeruk profit. Sebagian besar lupa dengan tanggung jawab sosialnya, sebagian
lain merusak lingkungan dengan membabi buta. Tenaga kerja dan kesejahteraan
menjadi persoalan yang tidak terlalu penting bila dibanding neraca keuangan, Return of investmen, BEP dan barang
tentu marjin……mmm I love it. Aku
sekarang mulai memahami logika itu atau mungkin juga mulai percaya,……duh Gusti
aku bisa apa………….
Intelektual-intelektual
menara gading selalu bicara dengan statistic dan grafik yang selalu di mark-up
sesuai kepentingan. Kadang angka
kemiskinan akan sengat tinggi bila sedang mangajukan proposal proyek
pengentasan kemisikinan. Di sisi lain kadang angka kemiskinan sangat rendah
bila wayahnya “Ndobos” keberhasilan-keberhasilan programnya. Aku jelas tidak
percaya..!!, selama pemuda-pemuda dan ibu-ibu tua itu limbung diperempatan dan
menyerah dengan menengadahkan tangan.
Ruang lobi dan perasmanan menjadi tempat
untuk membicarkan kemiskinan dan kelaparan. Lupa kalo perut terus diisi dengan
makanan yang seharusnya lebih di peruntukan ke objek yang sedang mereka
bicarakan. Kemiskinan seperti lagu blues
yang lesu namun cocok untuk mengiringi standing
party. Hanya menjadi lips service pembicaraan. Padahal yang selalu muncul
dalam benak mereka adalah promosi jabatan dan doa kepada Allah SWT agar 10% atau
paling tidak 3% dari nilai proyek bisa mereka ambil (standar overhead ongkos broker). Bila ditanya kenapa kok besar sekali overhead-nya maka jawabannya agar kita
dalam menjalankan tugas tidak korup. Padahal rekanan subcon proyeknyapun seudah
nge-deal 5 % untuk sang intelektual. Aku mulai tau itu dan mungkin mulai
belajar-belajar……, Duh…………. Aku bisa apa….
Yang
bekerja di perusahaan minyak atau sekelasnya memiliki tunjangan yang banyak,
gaji mencukupi dan fasilitas hidup yang aman. Setahun sekali atau lebih
menyisihkan hartanya untuk dibagikan kepada si miskin sembari berdoa dengan
khusuk untuk diterima amalnya,….. mungkin tidak tau kalo perusahaanya itu
adalah pengabdi terbaik dari materialisme dan kapitalisme. Ah……..,bukankah tidak tau dalam islam itu bisa
dimaafkan, atau mungkin aku yang terlalu sok tau. Tapi ahli ekonomi
politik itu mengatakan hal yang sama tentang kelakuan asli dari korporasi bahan
tambang, perbangkan, kayu, teknologi dan sebagainya. Pernah dengar seorang ahli ekonomi pasar yang namanya mirip gitarisnya Megadeth, Prof Molten friedmen Harvard University, dia
mengatakan alat korporasi dalam memperluas eksplorasi dan pasar adalah dengan sogok dan intimidasi. Jadi sekeras
apapun pegawai Caltex, Freeport atau bahkan Pertamina mengatakan bahwa tangan
mereka bersih, saya terlanjur tidak percaya. Buktinya Negara tidak pernah kaya
dengan keberadaan mereka-mereka itu, angka kemiskinan terus membumbung. Namun
sebaliknya mereka dan seluruh pekerjanya terus kaya. Lalu apa yang bisa ku
lakukan……mungkin aku terlalu….NAIF…..
2 Comments so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
makasih sudah di-add.
AnAnomali 11.04.07 @ 5:10 ambener Chevron = VOC
afrizal 11.23.07 @ 7:30 am