For Exist
April 29, 2007, 3:43 am
Filed under:
SAJAK
FOR EXIST
Cause the
power is
not mine
And all I couldn’t taste is this moment,
And all I couldn’t breathe…..
‘Cause sooner or later it’s over,
I just don’t want to hiding
From beneath of the dark sky
Night time comes so late
I’ve been waiting for wonderful dream
And carry’s me to stranger place
Take the flawless mercy
You know who I am, Don’t you?
When you faced my mistake as ashes
And memory couldn’t cover by pine
Fracture…..!
But I attended to link again
My imagines are running deep
But at same time my feeling is gone
God give me the power to take breathe from braze
And call life from stillness for the immortality soul
mukit’s poem/di sore yang mengintimidasi
JUARA
April 18, 2007, 1:36 am
Filed under:
THOUGHT
Dalam pertandingan……………
Haya ada satu pemain yang bermain
dengan tenang…
Dan memenangkan pertandingan……
Sebuah falsafah yang menarik yang menganggap bahwa hanya pemain yang
memiliki ketenangan lembah yang pantas disebut pemenang. Dalam hidup semua orang
bertanding. Berkerumun, berkejaran seperti semut-semut yang berbaris rapih
ketika mencari makan dan membawa kesarangnya manakala mendapatkan makanan.
Tetapi pertandingan yang kita hadapi diatur oleh seperangkat hukum-hukum
alamiah yang memerlukan sebuah basirah
untuk dapat mengetahuinya. Diperlukan ketenangan untuk mematuhinya. Dan
diperlukan wisdom untuk mencapai
kemenangannya.
Setiap bagian dari hidup memiliki tempat-tempat untuk bertanding. Di
rumah kita bertanding untuk menjadi penghuni yang baik, di jalan kita
bertanding untuk memeatuhi marka dan lampu merah. Lebih luas lagi kita
bertanding memacu diri melewati rintangan yang kadangkala tidak mampu dilewati
orang lain. Adalah juara yang memiliki stamina dan ketenangan diatas rata-rata.
Mampu memikul beban dan menahan nafas lebih lama dari kebanyakan orang. Bukan
lantaran dia ingin dilihat lebih baik atau lebih gagah dari yang lain. Atau
bersumpah atas nama negeri, ras keturunan atau yang laiannya. Melainkan sebuah
perasaan manusia yang mencoba terus menjadi lebih baik dan menjadi juara.
Manusia, bahkan dirahim dia bertanding. Sebelum kita terlahir kita
bertanding untuk menjadi lebih baik dari 3 miliar calon manusia yang terpancar
mengikuti hukum-hukum Tuhan. Walaupun dengan kenes ada yang menjadi pecundang
bahkan ketika dia benar-benar secara wujud adalah manusia. Persoalannya adalah karena
tidak menjadikan kesadaran dari pengetahuan sebagai tuntunan. Nafsu, obsesi
kerdil mengalahkan kesadaran lantaran keinginan merasakan yang instant, cepat,
enak tidak perlu menunggu. Padahal yang instant, kenikmatannya tidak lebih
sampai tengorokan saja.
Kita harus menentukan dimana kita bertanding. Memilih lawan-lawan yang
memang pantas kita lawan. Mendekati orang-orang yang memang pantas dijadikan
teman,. Dan memilih lapangan dimana kita dengan bangga mencucurkan keringat bila
perlu air mata dan darah. Dalam pertandingan tidak mungkin semuanya kita
jadikan teman atau sebaliknya. Sudah hukum-hukum alamiahnya ada yang tak senang
dan dengan sadar memposisikan kita menjadi lawannya, atau kita memandang orang
lain yang memang pantas kita jadikan lawan. Kehormatannya adalah terletak
bagaimana perjuangan kita persembahkan pada sebuah nilai yang kita percaya
benar. Boleh jadi orang lain tidak suka tapi bukan disitu intinya.
Kalah bukan terletak pada seberapa banyak luka yang kita derita. Tapi
manakala nilai kita gadaikan untuk sesuatu yang tidak pantas kita berikan nilai
kita padanya. Urusan menggadaiakan bukan diukur dari seberapa baik pakaian anda
atau posisi anda karena orang menggadaikan biasa menggunakan apa saja dan
mengenakan apa saja. Tetapi bahwa ada sesuatu dari dirinya yang dia lepaskan,
itulah inti dari menggadai. Dan hasil akhirnya tidak lain adalah menjadi
subordinate atau pecundang yang tidak pernah dihitung dalam pertandingan.
Menjadi juara sejati perlu ongkos yang mahal. Dalam satu permainan hanya
ada sedikit juara sejati. Yang namanya selalu harum dalam sejarah permainan
itu. Karena dia tidak hanya menyelesaikan permainan. Tetapi dia juga mencatat
rekor dan yang lebih penting lagi dia menyelesaikannya dengan cara-cara indah
yang tidak bisa dilakukan orang lain.
Mr.Oumlet,.. tetap lihat kebawah…
Pukul,…. Dan biarkan bola
bergulir menuju sasaranya sendiri……
Pergulatanku (terinspirasi dari smsmu)
April 3, 2007, 9:22 am
Filed under:
Refleksi
Banyak membaca seringkali membuat manusia suka berfikir yang
besar-besar. Bicara peradaban, politik, perubahan sosial, keliling dunia dan
sebagainya.
Dulu saya berfikir bahwa setiap muslim harus memeiliki pandangan yang seperti
diatas. Itu saya anggap sikap muslim yang modern dan kaffah. Hanya kejumudan
yang membatasi seorang muslim untuk tidak mau menjelajah dunia, merubah
masyarakat dan seterusnya. Sepertinya begitu absurd bila manusia hanya
memikirkan lingkungan RT nya, kebersihan RW nya, mendidik anak, dan menjadi
tukang batu pedagang kelontong kecil-kecilan. Dengan angkuh saya berfikir
manusia-manusia yang tidak pernah diakui sejarah "being and
nothingness" antara ada dan tiada. dikatakan ada tapi tidak eksist.
Setelah melalui proses berfikir nampaknya pandangan itu mengalami perubahan.
Ada sebuah cerita yang menarik dari rendra. Suatu ketika dia menyepi di sebuah
bukit selama 9 hari. pusing dengan tujuan hidupnya. 9 hari itu pula dia mutih
sekaligus bersemedi. Dia mencoba meminta petunjuk Tuhan agar memberikan
petunjuk terhadap jalan hidupnya. Tapi apa lacur 9 hari itu pula dia tidak
mendapatkan apa-apa.
Tiada wangsit, cahaya putih,atau apapun yang bisa dianggap sebagai manifestasi
sabda Tuhan. Dia kalut dan pergi kekuburan dan melihat sebuah cahaya merah.
"setan, demit atau apa yang penting bisa ngomong!!
kalo pun setan itu akan saya dengar apa yang dia ucapkan…..
tapi ternyata cahaya merah itu bukan setan atau banaspati. melainkan hanya
seorang yang sedang membuat arang.
Bapak itu bertanya
Nak…, kamu minggat dari rumah yah…
setelah beberapa saat diskusi bapak tadi bertanya lagi sebenarnya mau jadi apa
kamu?
pertanyaan yang mudah tapi membuat rendara muda tak bisa menjawab, malah
tertegun kalut.
Rendra balik bertanya, Lah kalo bapak mau jadi apa di dunia ini.
Kalo saya dek, menjadi pembuat arang yang baik saja sudah cukup.
jawaban sederhana tapi cukup menampar kesadaran yang angkuh. Luluh-lah wacana
tentang roustrow, monet, atau menjadi pegawai mapan. dari sinilah kemudian
rendra memilih menjadi "tukang sajak" tidak lebih, tanpa harapan
terkenal,tanpa ingin eksist secara pasar. walaupun tanpa mendapatkan restu dari
orang tuanya yang priyayi.
9 hari itu akhirnya dia turun gunung karena merasa sudah mendapatkan
jawaban.sesampainya di jalan dia berjumpa dengan banyak truk arang yang
ternyata milik juragan arang yang dia temui diatas. Juragan arang yang cukup
sukses disemarang dengan lapangan kerja yang menghidupi banyak orang.
saya berkesimpulan bahwa yang membuat manusia mengada (bukan ada) itu adalah
sikap batinnya . Bagaimana dia menemukan perbendaharaan batinnya. Tidak harus
dia pernah menghirup salju alpen atau menciumi debu sinai, atau belajar di
perpustakaan frankfurt atau bahkan mencumbui wangi hajar aswad, memenangi
politik, berbicara di depan ratusan seminarist, mengkampanyekan anti perang,
persamaan gender, menciptakan teknologi tinggi, menjadi pengusaha yang
menguasai pasar international, atau membuat buku best seller. Itu tidak harus.
Ada berasal dari ketiadaan tapi
"mengada" berasal dari ada. dalam dimensi dunia manusia pada dasarnya
sudah ada tapi karena modernitas, arus perkembangan teknologi yang cepat,
perubahan struktur budaya yang cepat, demokrasi yang gak jelas, informasi yang
serba cepat, globalisasi, pasar dsb membuat kita yang ada seperti tiada.
Tertelan sejarah yang panjang, seperti setunggal debu di padang pasir. tanpa arti, sedih,absurd dan tak menentu.maka adanya kita perlu disadari
untuk "mengada".
Pencapaian "mengada" tidak harus dilalui melalui proses-proses yang
bisa terukur secara positif seperti apa posisi anda, berapa kali keluar
negeri, berapa buku yang anda buat, berapa sumbangan ke masyarakat. Itu tidak
harus. Walaupun baik juga bila proses "mengada" dicapai dengan
cara-cara diatas.
Karena demikianlah saya berkesimpulan pendalaman batin setiap manusia, penemuan
hakekat ke- Tuhanan bisa dicapai oleh siapapun. Bahkan oleh Pembuat arang, oleh
sunarti penjual kelapa muda, Udin penjual bakso, oleh tardin si tukang becak.
Kesetiannya dan refleksinya terhadap dunia dan pergulatannya dalam mengabda
bisa mengantarkan manusia-manusia ini kedalam penyerahan batin yang pari purna
kepada Tuhannya. Islam, aslamu salamah.Mereka menemukan Tuhan dalam cendolnya,
menemukan tuhan dalam keringat kayuhannya.
Tapi manusia yang pernah keliling dunia, mengisi ribuan seminar, merubah
masyarakat dsb, boleh jadi dia tidak mengada. Contoh banyak profesor yang
terbius parfum demokrasi, dihibur lagu dusta tentang hak asasi, matanya
terpejamkan dengan hawa toleransi. Mengabdi pada zaman materi yang membuat
kebahagian berada diluar dirinya. semakin dikejar semakin menderita. belum lagi
status sosial, proyek, jabatan, kehormatan membuat mereka semakin buntu.
Pilihan selalu berbeda dengan cara-cara yang besar atau dengan cara-cara yang
nampak kecil syah-syah saja, tidak ada yang lebih berharga. seperti wajah
diciptakan tentu tidak bisa dikatakan lebih berharga ketimbang telapak
kaki.Dalam ekosistem hutan, Gadjah tidak bisa dikatakan lebih berharga dari semut,
api tidak lebih berharga dari abu danseterusnya…
semangat tulisan ini sederhana sebenarnya… menghargai cara hidup manusia
lain. Baik secara kasat mata menurut ukuran-ukuran modern belum tentu baik
hakekatnya, begitu pula sebaliknya.
sebuah teori yang sulit diamalkan
REVOLUTION
March 1, 2007, 5:27 am
Filed under:
SAJAK
REVOLUTION
Revolusi, melawan
Menghinggapi kepala-kepala yang risih
Berteriak berkobar-kobar
Tak selesai dan takkan padam
Apa makna revolusi dan melawan sekaligus
Begitu pentingkah hingga darah tertumpah
Apakah cita-cita kemenangan, kalah atau yang lainnya
begitu jelas
Bolshevik, Iran dan di banyak tempat
Dengung-dengung bising revolusi telah pecah
Menemukan jalannya bagi semangat berubah
Menceritakan keberhasilannya merah
Dan menuliskan dengan tinta-tinta darah
Nama pendukungnya yang paling setia.
Lenin, Mao, Soe
Apakah bagimu tetap dan berubah begitu penting?
Baikah merdeka ketimbang damai?
Dunia yang begitu penat makin merangsang
Melupakan nyanyian burung-burung yang bersaut
Menafikan gunung-gunug yang terangkai mesra
Melupakan ngarai dan lembah yang anggun bermakna
Sepertinya revolusi lebih indah dan mengalahkan semuanya
Extase jiwa-jiwa yang merana
Dalam sejarah yang panjang sebelum dan sesudahnya.
Sebuah Refleksi Tentang Kemandirian Bangsa
January 5, 2007, 10:08 pm
Filed under:
Society
DICTUM
Sudah menjadi sebuah diktum bahwa sebuah negara dikatakan maju peradabannya manakala mampu menciptakan teknologi yang mutakhir. Walaupun sebenarnya persoalan peradaban itu tidak bisa selalu berbanding lurus dengan produksi teknologi. Karena persoalan peradaban adalah persoalan bagaimana manusia bisa hidup semanusia mungkin. Dan perdebatan di wilayah ini akan rumit manakala mainstream ideologi menjadi pisau analisis untuk membedah ini perihal itu.
Dari banyak ukuran tentang beradab atau tidak sebuah bangsa, ada satu ukuran turunan yang cukup fundamental dalam melihat martabat sebuah bangsa. Adalah kemandirian nilai yang mampu menempatkan sebuah bangsa untuk berani berdiri sama tinggi dan duduk sama dalam pergaulan internasional. Sebagai mana manusia negara juga membutuhkan ruang hidup, penghasilan, eksistensi, hasrat dan seterusnya. Hanya saja negara adalah manusia dalam jumlah besar yang kadangkala memerlukan usaha serius dalam menemukan dirinya dan menemukan visi dan misi hidupnya. Dalam hal ini tidak bisa visi-misi itu disematkan oleh beberapa kumpulan elit masyarakat saja, atau beberapa teknokrat yang dianggap memahami materi zaman, atau para cendikiawan yang dianggap mampu melihat masa depan negara atau bahkan para polkitisi yang memimipin sebuah negara itu. Kemaun atas hidup itu harus ditemukan atau dibangkitkan dalam diri seluruh manusia yang menjadi stackholder sebuah bangsa.
Kombinasi antara pemahaman filosofis atas wawasan kebangsaan dan analisis sosiologis sebagai penjelasannya. Merupakan hal yang penting untuk diketahui bagi siapa saja yang akan membangun bangsa ini. Agar tidak terjebak dalam kungkungan mainstream ideologi. Tidak terjebak dalam sosialisme absurd atau kapitalisme dengan divelopmentalizm buta. Yang satu membabi buta seolah-olah sejarah adalah berada di tangan struktur proletariat. Yang satu membabi buta percaya akan fundamentalisme pasar dan mekanisme invisible hand. Dan kalo boleh dikatakan tidak berhasil maka kedua-duanya tidak berhasil. Yang satu terlalu misikin yang lain terlalu kya tapi sama-sama kehilangan makna manusianya. Sedangkan terlalu banyak korban yang menjadi wadalnya. Kendatipun kini korban disisi kapitalisme lebih banyak dan terus bertambah. Baik secara sadar menyerahkan dirinya atau secara tidak sadar karena mengangggap kemajuan negara dominan itu bisa di tiruh seluruhnya baik secara ekonomi, politik hukum dan seterusnya. Dan akhirnya kita mengenal teori dependensia atau hegemoni-Gramsci sebua analisis tentang ketergantungan negara-negara dunia ketiga terhadap negara patronnya. Ketergantungan yang bukan merupakan sebuah pilihan. Karena tanpa negara maju melakukan apa-apapun konon negara-negara dunia ketiga tidak akan bisa untuk tidak tergantung.
The Pathway
Setiap-kesulitan mesti ada kemudahan, setiap penyakit ada obatnya, setiap masalah mesti memiliki jalan keluar dan tidak bisa di pungkiri juga selalu ada angin segar dalam sebuah kebuntuan usaha. Adala Iran, China, Bolivia yang memberikan sedikit angin segar itu.
Bila kita tengok bagaimana Iran dan china mampu menurunkan karakter kebangsaanya dalam menjawab tantangan zaman. Kita akan tahu bahwa setiap negara memeiliki metode dan keyakinannya sendiri-sendiri dalam mencari jalan keluar tersebut.
Iran adalah negara yang berpenduduk 60 juta jiwa. Dengan homogenitas kepercayaan dan ideologi. Negeri yang dalam mainstream sejarah islam disebut syia’ah ini menggemparkan seluruh belahan dunia. Terutama dalam penyikapnnya terhadap persoalan poitik dunia. Sebelum revolusi iran di tahun 70-an kita akan melihat iran sebuah bangsa tidak bisa dikatakan baik. Kepercayaan tentang mahdiisme dan mistisisme imam (gelar kepemimipinan ulama) malah justru membuat iran stagnan dan tidak memiliki perkembangan berarti. Di tambah lagi struktur pemerintahan yang berbentuk monarki absolut juga persoalan besar lain, dimana korupsi dan gaya hidup kerajaan yang cukup mewah menambah beban bagi kemajuan iran sendiri. Tafsir keagamaan yang tidak merevivalisasi kehidupan rakyatnya adalah stagnasi pemikiran iran yang membuat tidak produktif. Persoalan yang sedimikian rumit ini telah berusaha diselesaikan oleh beberapa komunitas minor yang menganggap perlunya perubahan cara hidup, dan penafsiran kembali tentang ajaran agma yang menjadi basis hidup masyarakt iran.
Adalah Al-Afghani yang menjadi pelopor penafsiran kembali pemikiran tentang kebangkitan umat baik secara pribadi maupun secara komunal. Baik dalam lingkup iran ataupun dalam pergaulan internasional. Dan diawal tahun 70-an meledaklah sebuah revolusi yang dipimpin oleh seorang ulama yang bernama Ayatullah Khomeni. Majalah time mengabadikan peristiwa ini dengan headline-nya yang berjudul “Mullah chalange the Word”.
Momentum ini tidak hanya mereformasi secara struktural tetapi juga mereformasi mindset bangsa dan word view atas Tuhan, alam, intelektualitas dan masa depan sebuah bangsa. Formulasi yang diciptakan kemudian adalah membentuk sistem politik syuro dengan pemilihan president secara demokratis. Sistem pendidikan dipilih mengikuti tradisi islam dengan tidak hanya menggunakan sistem belajar mengajar secara formal. Malainkan juga sistem halakah/ perkumpulan kultural di masjid-masjid dengan guru menjadi pembimbing dan yang lain bebas menyampaikan pendapat. Reformasi pemikiran juga di gagas oleh bebrapa tokoh ulama seperti Ayatullah khomeini, Murtadhamuntahati, Taqih Misbaq, dan banyak yang lainnya. Dan yang menjadi luar biasa adalah iran tidak memilih barat sebagai referensi utama dalam mewujudkan kemandirian bangsanya. Iran tidak memilih system ekonomi pasar, iran tidak memilih mainstream developmentalizem, Iran tidak memilih sistem politik dan perundangan barat. Namun Iran secara jeli memilah-milih kelebihan barat yang bisa diadopsi tanpa merubah karakter bangsanya.
Sehingga kita bila berkunjung kekota iran akan kesulitan menemukan gedung-gedung pencakar langit dan papan iklan yang gemerlap. Kita juga akan sulit menemukan mobil mewah dan diskotik dan tempat hiburan mewah. Kita juga akan tidak menemukan kantor pemerintahan yang mewah dan sebagainya yang merupakan simbolitas dari developmentalism ala barat. Tapi di balik itu kita akan dengan mudah menemukan perpustakaan kelas internasional dan lab-lab teknologi dengan fasilitas dan produktivitas hasil karya yang baik. Iran sadar bahwa tidak mungkin menghindari globalisasi pergaulan dunia. Globalisasi harus dihadapi sebagai tantangan bangsa. Iran sadar bahwa pencapaian teknologi adalah kemutlakan bagi bangsa yang ingin berdiri dikakinya sendiri. Iran menangkap betul semangat teknologi adalah make the better living. Tapi tidak untuk satu elit golongan saja melainkan untuk seluruh bangsa.
Kini kita menyaksikan bagaimana Iran sebagai sebuah bangsa mampu menjadi mandiri. Dalam pencapaian teknologi Iran mampu mensejajarkan diri dengan negara-negara kaya. Dalam pergaulan politik internasional Iran berani menyampaikan pendapatnya dengan bebas. Dan dalam perkembangan ekonomi iran kuat bahkan ketika mengalami embargo ekonomi amerika selama 12 tahun. Ditambah lagi peran aktifnya dalam memberikan bantuan kepada negara-negara yang terkena bencana alam seperti india, indonesia dan sebagainya. Iran juga berani mengambil langkah sulit untuk membantu dan bekerjasama dengan negara-negara yang diembargo ekonominya oleh Amerika. Menjadi insaflah kita bahwa kemandirian sebuah bangsa bukan terutama terletak pada gedung pecakar langit yang megah, bukan terletak pada gaya berpolitik yang bebas, bukan terletak pada konsumsi sumberdaya yang boros, bukan juga terutama terletak pada sistem ekonomi yang mengikuti disiplin up-todate dari perkembangan ilmu ekononmi yang paling mapan. Atau bahkan tidak juga terutama pada GDP atau GNP yang tinggi. Melainkan kemandirian adalah ketika daya cipta, karya dan karsa sebuah bangsa di jadikan modal utama bagi pemenuhan kehidupan pribadinya atau dalam mensejajarkan dirinya dalam pergaulan internasional. Berani memberikan sikapnya tanpa takut dimusuhi atau di cekal akses ekonomi dan militernya.
China
Lain Iran lain pula china yang memilih merubah ideologi sosialismenya menjadi kapitalisme yang smooth. Negara besar dengan penduduk lebih dari satu miliar ini pernah percaya dengan doktrin sosialismenya Marx yang kemudian di praksiskan oleh Lenin lalu di implementasikan oleh Mao Zedong di China. Pertengahan tahun 60-an adalah masa dimana china diajak oleh pemimpin besar Mao untuk melakukun revolusi budaya. China yang berbentuk kekaisaran dan struktru sosiologis yang berumur ribuan tahun dirubah secara radikal dengan doktrin Sosialis ala Mao. Ini memungkinkan karena struktur politik lama tidak pula mampu menciptakan kehidupan rakyat yang makmur. Gelombang sosialisme dunia menerjang china, yang pada akhirnya di Tangan Mao menjadi ideologi china. Perubahan besar-besaran terjadi pada setiap kepercayaan dan segala cipta budaya lama. Selurh rakyat diajak percaya dengan cita-cita pemerataan. Rakyat diminta dan dipaksa untuk berkorban bagi rezim proletariat yang nantinya pada suatu saat akan mencapai masyarakat yang rata/ masyarakat komunis.
Beberapa penggalan cerita menyampaikan betapa powerfull-nya seorang Mao dengan sosilismenya. Struktur rezim yang dilegitimasi oleh ideologi atas nama kebersamaan mampu mencengkram seluruh dimensi kehidupan rakyat. Semuanya harus sosialis dari musik, sastra apalagi politik semuanya harus memunculkan nada Do sama dengan koumis. Yang tidak setuju akan berakhir di tiang gantungan atau dieksekusi secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi.
Sebagaimana John Lock percaya bahwa kekuasaan pada dasarnya menyimpang. Begitu pula rezim Mao yang terlalu kuat akan menyimpang pula. Atas nama kebersamaan rakyat di korbankan. Jutaan rakyat kelaparan karena mengikuti seluruh program yang dicanangkan pemerintah. Sebuah contoh, pernah suatu ketika Mao mencanangkan Bulan besi dan baja. Karena ketika itu china membutuhkan itu untuk memperkuat militernya dalam perang dingin. Maka seluruh rakyatnya harus menyumbangkan kemampuannya untuk dapat merealisasikan itu. Pemuda yang memiliki tenaga bekerja di pusat penambangan. Sedangkan keluarga miskin yang tak punya uang untuk mengganti harus pula menyerahkan barang rumah tangganya yang terbuat dari logam. Panci, sendok, garpu yang terbuat dari logam disita demi memenuhi kebutuan program pemerintah. Sedangkan yang melawan berarti tiang gantungan karena dianggap melemahkan cita-cita bersama. Mao lupa satu milliar rakyatnya tidak semua seperti dirinya, tidak semua rakyatnya mau berkorban dan faham sosialisme marx seperti Mao. Pada akhirnya kelaparan yang meluas dan kepemimpinan mau yang menurun dan perang dingin yang hampir usai memaksa pemikiran ulang tentang sosialisme china.
Setelah Mao meninggal di pertengahan 70-an. Muncullah pemimpin baru Deng Xio ping. Seorang didikan Mao yang tidak percaya seluruhnya Doktrin Mao. Deng tidak memaksakan dirinya untuk mengikuti sosialisme yang selama ini terbukti justru menyengsarakan rakyat. Bagi dirinya yang memiliki haluan sosiallisme yang lebih pragmatis, tidak penting apakah sosialisme atau kapitalisme yang penting adalah bagaimana memberi makan rakyat kini yang sedang kelaparan. Pepatahnya yang paling terkenal yang menunjukan bahwa dirinya bukanlah seorang politisi aliran menyebutkan “tidak penting kucing itu hitam ataupun putih asal dia mampu menangkap tikus maka kita akan pelihara”. Sebuah pepatah yang menunjukan bergesernya sosialisme china atau lebih tepatnya perubahan sosialisme china.
Di tangan Deng China menjadi negara yang sangat terbuka dengan pihak asing. China kini sadar bahwa menutup diri secara radikal malah justru menjerumuskannya kedalam kesulitan. Dengan modal kekayaan alam yang berlimpah dan sumber daya manusia yang banyak dan murah. China memulai membuka dirinya dan memastikan dirinya untuk menjadi saurga bagi investasi. Model birokrasi dan kebijakan politik yang longgar bagi investasi asing seperti karpet merah yang siap menyambut tamu terhormat. Effesiensi administrasi bagi investor sangat diperhatikan untuk pendirian usaha. Segala macam kewajiban administrasi investor di buat semudah mungkin. Muncullah kawasan-kawasan industri teknologi yang luar biasa. Di tambah lagi gedung-gedung pecakar langit dan papan reklame yang gemerlap. Eksekutif-eksekutif muda baru dengan limosinnya. Simbol dari kemajuan china yang mencengangkan.
Namun kesadaran china tidak hanya sampai pada pertumbuhan ekonomi saja. Dia sadar bahwa bila hal ini tidak di barengi dengan kebijakan lain maka negaranya akan tergadai oleh kekutan kapital dunia. Sehingga di awal pembangunannya china membeli banyak hakcipta. Tujuannya adalah agar bangsanya dapat menciptakan sendiri barang-barang dengan value teknologi. Dengan demikian negaranya tidak hanya menjadi transit dari perakitan teknologi asing. Melainkan juga secara bertahap mengimbangi teknologi yang dunia untuk kemudian menciptakan sendiri dan menjadi komoditas yang sarat value. China juga sangat memperhatikan kemajuan pendidikannya karena tanpa itu bangsanya takkan mampu mengawal perkembangan ini. Kita sering mendengar bagaimana para ilmuwan china kini berada di seluruh dunia untuk mempelajari ilmu dan teknologi untuk diberikan bangsanya. China juga tidak melupakan konfusionisme sebagai pondasi kepercayaan masyarakatnya. Dengan merevisi tafsir sebagaimana yang dilakukan iran jadilah konfusionisme ajaran yang progresif yang mendukung kemajuan bangsannya.
China dengan pertumbuhan ekonominya hingga 10 % pertahun dan iran dengan nuklir dan kesedeerhanaanya menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan dunia. Ada nilai di kedua negara itu yang menjadikannya bermartabat. Yakni kemandirian dalam menentukan masa depan bangsanya. Kalau Iran dengan kekuatan homogen bangsa, minyak dan nuklirnya. Maka china dengan produksi masal barang elektronik yang murah yang sulit dikalahkan. Keduanya memiliki kearifan sendiri dalam menentukan masa depannya. Tetapi bukan juga keduanya tanpa kekurangan. Baik China ataupun Iran keduanya juga punya kekurangan. Misal china dimana sisi lain dari kemajuannya menciptakan kesenjangan sosial baru antara mayarakat kota dan desanya. Atau Iran yang dianggap menimbulkan perpolitikan dunia menjadi memanas. Dengan demikian bagaimana kita sebagai bangsa melihat fenomena itu kita jadikan bahan pelajaran. Yang baik dan yang memungkinkan kita contoh tentu dengan kearifan kita sendiri. Dengan kearifan inilah kita terhindar dari semangat menjiplak secara mebabi buta.
anak kecil
December 15, 2006, 12:56 am
Filed under:
Refleksi
Tiba-tiba tangan bergerak sendiri..memijat tombol-tombol teknologi yang lahir dari peradaban.
Kadangkala gundah itu bisa diobati oleh kata-kata mutiara, selaksa doa atau sajak.
Namun kali ini lain. saya lebih memilih memandingi foto anak-anak. Anda tau kenapa rekaman segala sesuatu tentang anak-anak atau masa kecil terkadang bisa membangkitkan senyuman kita yang purba.
Tertawanya membuat kita tertawa, senyumnya membuat kita tertawa, bahkan tangisnya membuat kita tertawa.
Boleh jadi karena kita merasa bahwa anak-anak kadang melakukan sesuatu tanpa mereka ketahui maksudnya.
Anak-anak kadangkadang menertawakan sesuatu yang tidak lucu dan menangisi yang tidak penting.
Tertawa bagi mereka tidak perlu di buat sebuah pertunjukan yang lucu. atau jok-jok saru yang seringkali muncul di box tv kita. Dan menangis bagi mereka juga tidak membutuhkan seperangkat nilai yang perlu ditimbang-timbang, kemudian dipikirkan pantaskah untuk menangis.
Begitu saja ekspresi itu muncul dan sekonyong-konyong membuat kita tersenyum…
Kelebihan mereka adalah tidak pernah takut apalagi malu mengikuti kata hati. sedangkan kekurangan manusia dewasa adalah terlalu takut mengikuti kata hati. Atau mungkin terlalu sombong dengan berpikir yang besar-besar untuk menyembunyikan kekerdilan dirinya dan keremehan pribadinya.
Bagi saya anak-anak adalah cermin yang membuat hidup menjadi senda gurau sebagaimana Quran memuatnya.
Senda gurau yang setiap guraunnya memuat takdir, perjuangan, hidup, mati dan menuntut penyelesaian.
Mengenali
December 8, 2006, 4:31 am
Filed under:
SAJAK
Dari Ramuan
gending dan gamelan yang menawan
Aku melihat
keberadaan-Mu yang agung
Dari nyanyian
biduan nada arab jawa
Engkau
sayup-sayup menyapaku
Aku Ingin
mendekap-Mu
Tapi debu yang
begitu tebal membuatku sangat malu
Miskat dalam diri
tak pernah kumandikan dengan air dzikir
Hijab-hijab
justru menjadi hiasan yang menghalangi cahaya-Mu
Aku tak mampu membalas kesucian cinta-Mu
Aku tak mampu
menjadikan diri yang ada untuk mengada
Partikel-partikel
materi yang nafsuku pertahankan menahan menghalangi
Penyatuan antara Zat pencipta dan maujud yang diciptakan
Aku begitu
gemetar
Aku tak sanggup
Aku malu
Hanya
kemurahan-Mu yaa.. Rabb
Aku berharap bagi
penerimaanku
Oleh-oleh dari jama’ah Maiyah
Teknologi dan Simbol Kemajuan.
December 8, 2006, 4:17 am
Filed under:
THOUGHT
Teknologi dan
Simbol Kemajuan.
“ Engineers have the challenges and opportunities to
create a better live in the future”
Adalah sebuah
platform bahwa teknik dan organisasi yang muncul dari rahimnya menyatakan
memiliki kemampuan untuk membuat hidup ini lebih baik. Minimal dalam
ukuran-ukuran pencapaian pendapatan dan infrastruktur yang dimiliki oleh sebuah
society. Dari perspektif di atas
dapat dikatakan bahwa barang siapa memilki teknologi maka dialah yang menjadi
yang terdepan. Sebut saja Amerika dengan intel
dan microsoft-nya, Finlandia dengan
nokia nya, german dengan otomotif dan biotech-nya, bahkan Negara miskin seperti
china dan India kini menanjak dengan prestasi technologinya.
Technologi saat
ini tidak hanya sebuah penemuan atau perangkat kebutuhan hidup manusia yang
“mati”. Melainkan technology kini telah menjadi sebuah symbol atas prestasi
sebuah bangsa. Yang berimplikasi pada kredibelitas suatu bangsa itu. Bahkan
pada sesuatu yang tidak berkaitan dengan technologi dalam pengertian khusus.
Semisal produk Amerika dianggap mesti berkualitas semisal sepatu kulit, buah,
baju bahkan hukum dan system politiknya dianggap lebih baik. Padahal relasi
antara baju, sepatu apalagi hukum jauh kaitannya dengan teknologi. Apalagi bila
kita tau bahwa, buah-buahan dari amerika itu secara kesehatan tidak baik, atau
produk spatu kulit cibaduyut tidak kalah baik dsb. Namun karena wajah
modernitas itu yang diwakili oleh tehnologi dimahkotakan kepada amerika maka
jadilah persepsi itu muncul dalam benak masyarakt dunia. Dan itu mengntungkan
bukan saja dari sisi technologi melainkan juga dari sisi ekonomi bahkan
ploitik. Boleh jadi dari analisis inilah kemudian Iran ngotot untuk melakukan pencapain nuklir sebagai symbol modernitas yang
menguntungkan itu.
Bagaimana dengan
Negara kita. Tentu jawabanyya akan terdengar sumbang. Sudahmenjadi rahasia umum
bahwa teknologi kita memble, pemerintah hanya setengah hati mendukung
keberkembangan teknologi nasonal, tidak ada paket insentif bagi pengembangan
usaha kecil yang berbasis teknologi, pemasaran yang tidak didukung, lebih
senang mengekspor buatan luar dan
sebagainya adalah faktor yang menjadikan élan
cipta insinyur kita rendah-selain tentu masalah mentalitas- Dan kemudian
orang-orang paling cerdas Negara ini terpaksa dan dengan senang hati menyerah
pada Preport, Exxon, Caltex untuk menjadi perkerja disana, atau kalo beruntung
dirayu untuk menjadi warga Negara asing seperti German dan sebagainya untuk
diabdikan keahliannya pada Negara itu.
Dari kesadaran
di atas adalah penting bahwa bangsa ini tidak harus selalu menjadi subordinate
Negara lain. Diperlukan manusia-manusia tangguh dari jenis pemuda yang mau
mengorbankan waktu dan pikirannya untuk merintis kerja-kerja besar itu. Seorang
engineers yang memiliki banyak inisiatif pantang menyerah dan siap berhasil.
Dia juga memahami realitas dan mampu membumikan cita-citanya. Sehingga keahlian
rekayasanya mampu memberikan nilai tambah bagi komoditas local
yang dimiliki. Seorang bijak berkata “ kalu anda ingin menyeberangi samudra maka
mulailah dengan satu kayuhan kecil”.
* tulisan ini unutuk raker Fam-pii
SAJAK JOKI TOBING UNTUK WIDURI……..
December 2, 2006, 3:46 pm
Filed under:
SAJAK
Sajak Joki tobing untuk Widuri….
Dengan latar
belakang gubug-gubug karton
Aku terkenang
akan wajahmu
Di atas debu
kemiskinan
Aku berdiri
menghadapmu
Usaplah wajahku
widuri
Mimpi remajaku gugur di atas padang pengangguran
Ciliwung keruh
wajah-wajah nelayan keruh
Lalu munculah rambutmu yang bertebaran
Kemisikinan dan
kelaparan
Membangkitkan
keangkuhanku
Wajah indah dan
rambutmu
Menjadi pelangi
di cakrawalaku
Sajak Widuri untuk Joki Tobing
Debu mengepul
mengolah wajah tukang-tukang parkir
Kemarahan merundung
di dalam kalbu purba
Orang-orang
miskin menentang kemelaratan
Wahai joki tobing
keseru kamu
Karena wajahmu
muncul dalam mimpiku
Wahai joki tobing
keseru kamu
Karena terlibat
aku di dalam nafasmu
Dari biskota ke
biskota kamu memburuku
Kita duduk bersanding
melihat kisah hidup yang kuno
Dan perlahan
tersirat darah kita
Melihat sekuntum
bungan telah mekar
Dari kebebasan
yang putus asa
Oksidentalisme Sebuah Semangat Perlawanan Timur
December 2, 2006, 3:42 pm
Filed under:
Society
Barat yang
diwaikili eropa secara arogan mengakui bahwa hanya ada satu kebudayaan maju di
dunia ini. Ia eropa menstandarkan sendiri makna kemajuan dan memberikan piagam
penghargaannya kepada dirinya sendiri.
Muhammad ghalib (rektor Al-Azhar)
Sebuah
kenyataan bahwa barat kini secara ekonomi lebih maju dari timur. Dan perihal
ini dipandang secara bulat-bulat oleh kebanyakan orang timur untuk seluruhnya
berkiblat kepadanya. Melalui paham developmentalism barat mengekspor ideologi
yang sepertinya tidak dapat di tolak oleh seluruh negara di dunia. Kemudian
negara-negra berkembang mengamini, lalu berjuang dengan disiplin puritan dan
sikap licik nomer satu untuk mampu maju secara ekonomi dan teknologi.
Sepertinya hal itu adalah sebuah keniscayaan atas sebuah pembangunan manusia
yang komperehensif. Berbagai kritik di lontarkan atas agama baru ini
(developmentalisme) tetapi tidak ada yang kunjung mampu menghentikan kekuatan
paham ini bahkan justru membuatnya memodisfikasi strategi yang lebih jitu lagi.
Sejak
munculnya revolusi sains hingga merubah paradigma dunia dalam memandang alam
dan segala isinya. Maka berubah pula paradigma-paradigma sosial yang ada.
Kemunculan ilmu-ilmu empirik baru dan menangnya filsafat-filsafat positifistik
mebuka gerakan dan percepatan lain bagi sejarah dunia ini. Sebut saja
copernicus, galileo, newton descartes orang-orang jenius abad pertengahan telah
memetakan dunia baru. Bagi kaum materialism terciptanya ilmu pengetahuan dan
teknologi menjadikan peluang bagi dirinya untuk melakukan eksplorasi dan
efesiensi kegiatan ekonomi. Alat digunakan sebaik mungkin untuk
mengakumulasikan kapital sebanyak-banyaknya. Dan sudah menjadi hukumnya
perilaku tersebut memerlukan tanah-tanah baru dan sumberdaya-sumberdaya baru yang
lebih kaya lagi murah3.
Selanjutnya pandangan-pandangan
merkantilisme mendorong penguasa-penguasa untuk melakukan pembiyayaan
besar-besaran atas sejumlah pelayaran dan ekspedisi.Di Spanyol Raja dan ratu
mendukung secara kuat colombus untuk menemukan dunia baru. Dengan diikuti kongsi-kongsi dagang melaui pelaut-pelaut eropa
dengan motif Gold, Glory & god. Jadi
upaya globalisasi di era kolonial diarahkan untuk memenuhi kebutuhan
negara-negara yang lebih dahulu maju dengan mengeksploitasi negara atau daerah
yang lebih terbelakang.
Globalisasi
ekonomi yang telah berakar berabad-abad terus berevolusi. Munculnya tatanan
strata sosial baru antara kaum penjajah dan terjajahpun tidak bisa dihindarkan.
Bahkan budaya superior dan inferiorpun muncul sebagai konsekuensi logisnya.
Universalisasi nilai, ukuran dan ideologi dipaksakan masuk dalam budaya
bangsa-bangsa terjajah yang menyebabkan akulturasi yang tidak seimbang. Situasi
yang demikian menyebabkan pribumi secara tidak sadar dan berangsur-angsur mulai
memberikan legitimasi kepada penjajah untuk kemudian mengakui bahwa dirinya adalah
subordinat dari kaum emperialis. Dari situ mulailah “pendiktean” atas tradisi,
moral dignity, dan pola pikir bangsa-bangsa terjajah. Yang oleh Gramsci disebut
dengan istilah hegemoni.
Fundamentalis Islam Sebagai Reaksi Atas
imperialism.
Tidak ada
sesuatu yang sempurna, termasuk imperilisme sekaligus hegemoni yang ada di
dalamnya. Ketersumbatan kaum terjajah dalam mengakses hak-hak hidup sebagai
individu dan sosial menyebabkan beberapa dari mereka berfikir tentang
kebebasan. Sedangkan catatan kegemilangan islam memunculkan romantisme sejarah
tersendiri bagi umat islam. Romantisme tersebut memberikan energi perlawanan terhadap
penjajah yang notabennya orang-orang non-Muslim.
Dalam konteks
ini Islam sebagai agama menuntut sebuah pencarian atau legalitas dengan asumsi
bahwa setiap aksi,sistem, atau negara harus berdiri diatas konsepsi atau
gagasan sebagai landasan dasarnya. Hal ini jelas tidak diijinkan oleh kaum imperialis.
Seperti juga negara kapitalis yang berasaskan kebebasan dan negara-negara yang
berhaluan sosialis melandaskan atas konsep “keadilan sosial”. Negara islam yang
di idami-idamkan, juga harus berdiri
diatas legalitas islamnya. Disinilah fundamentalisme islam dalam salah satu
makannya berupaya memformulasikan leglitas ini5. Kemudian merealisasikannya
di tengah kepungan kepentingan imperialis dan ideologi-ideologi lainnya.
Dari beberapa kalimat paragraf
diatas jelas bahwa fundamentalis islam tidaklah identik dengan konservatif,
terbelakang dan menentang peradaban modern seluruhnya. Fundamentalis juga tidak
bisa dituduh selalu menggunakan cara-cara anarkis dan machievalis dalam
pencapaian tujuannnya. Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa kebanyakan dari
doktrin perjuangannya bersandar pada nilai-nilai islam yang Pro dalam
pembangunan kesadaran berbangsa, membangun kesadaran berpolitik, melestarikan
budaya arab, menyerukan kebersihan dan bahkan beberapa pemikir yang dianggap fundamentalis
(seperti Alafghani,Rasyid Ridho, Al-Kawakibi,dll) menulis tentang toleransi dan
saling bekerjasama, serta menyerukan persaudraaan dan cinta kasih6.
Sehingga fundamentalis islam dalam perspektif umum yang kini di amini, lebih
merupakan istilah yang diciptakan barat dalam mendeskriditkan gerakan-gerakan
islam yang notabennya berusaha menuntut haknya sendiri.
Oksidentalisme melawan neo-imperialism
Sudah
kita fahami bersama bahwa bentuk-bentuk imperialism telah berganti bentuk
menjadi neo-imperialism. Soekarno 50 tahun memberikan ungkapan atas hal ini
dihadapan negara asia-afrika, bahwa: colonialism
has also its modern dress, in form of economic control and actual physical
control by a small but alien community within a nation”.7 Imperialis
hanya berganti baju, kalau dulu dengan meriam dan pistol kini baju barunya
adalah sebuah paham atas pembangunan dan kemajuan. Dengan globalisasi sebagai
topengnya untuk menyembunyikan taring-taring kapitalisme.
Dalam terminologi ekonomi Doktrin
Gramsci mengatakan bahwa negara-negara terhegemoni akan melahirkan budaya
kaum-kaum subordinat. Sedangkan negara kuat selalu menguniversalisasikan
nilai-nilai yang dibawanya baik melalui tradisi intelektual ataupun cara-cara
kekerasan sekalipun. Kritik model ini tidak hanya gramsci, dalam teori
dependensinya Andre Gunder Frank bahwa hubungan antara negara pinggiran dan
negara pusat akan menghasilkan pembangunan keterbelakangan atau The Development of Underdevelopment8.
Dan tentu diikuti oleh keterbelakangan dimensi lainnya.
Dalam
terminologi sosial budaya hegemoni akan memunculkan rendah diri bagi bangsa
client bahkan untuk sekadar menengadahkan muka. Selanjutnya kekerdilan itu akan
menjangkit pada nalar dan logika yang merunduk-runduk dan berkiblat pada barat.
Lupa dengan aksioma-aksioma agamanya, lupa dengan tradisi dan budaya bangsanya.
Kekagumannya pada yang baru membuatnya terengah-engah untuk maju dan pada suatu
titik dia lupa menengok kebelakang lalu lupa pula tujuan apa yang akan dicapai.
Terkait dengan itu maka perlu
dimunculkan sebuah semangat restorasi paradigma. Sebuah semangat yang mampu
memetakan diri sebagai keutuhan manusia
dan “orang lain” sebagai keutuhan yang lain pula. Semangat yang tidak mencampur
adukan nilai-nilai, kultur, budaya, dan metode intelektualitas sampai pada
batasan tidak mampu mengenali dirinya sendiri. Sehingga perlu memunculkan
sebuah sikap dan bagi seorang muslim adalah sikap islam terhadap tradisi barat
dengan istilahnya Hasan hanafi adalah Oksidentalisme.
Oksidentalisme bagi Hasan Hanafi merupakan suatu
upaya menandingi Orientalisme (baik yang clasic ataupun moderat.pen) sebagi
kaki tangan imperialis. Kemudian meruntuhkannya hingga ke akar-akarnya. Untuk
mengembalikan citra Islam, ia (Oksidentialis) memberikan jalan dengan melakukan
reformasi agama, kebangkitan rasionalisme dan pencerahan. Selanjutnya dijelaskan
bahwa Oksidentalisme adalah materi utama yang tidak tinggal pakai. Sebab
ia merupakan hasil penggambaran egoterhadap the other. Bukan dekripsi the other
atas dirinya yang kemudian ditranformasikan oleh ego. Ia dihasilkan oleh upaya
kreasi ego. Bukan oleh keringat the other. Ia Oksidentalisme ingin menghapuskan eurosentrisme. Menjelaskan
bagaimana kesadaran eropha kembali kebatas alaminya yang selama ini menyebarkan melalui media ekonomi dan budaya9.
Oksidentalisme
sebagai semangat perlu kita amani walaupun sebagi dasar berpikir tentu
memerlukan telaah yang lebih jauh. Dalam menafsirkan reformasi Agama dan
reformasi pemikiran untuk kemudian di formulasikan, tentu setiap gerakan islam
memiliki penafsiran dan metode sendiri-sendiri. Dan bukanlah Osidentalisme-nya
Hasan Hanafi yang dijadikan rujukan atas itu.pen
Oksidentalisme
sebagi sebuah semangat mendorong setiap muslim berani untuk duduk sama redah dan
berdiri sama tinggi dengan barat. Tidak lagi perasaan minder muncul ketika berbicara dengan orang barat.
Memunculkan keberanian, seberani Hatta ketika berpidato di konfrensi meja bundar,
segagah soekarno ketika menghujat keburukan barat beserta varian-variannya. Dan
sebaik Said Quthb dalam mencerna pemikirannya. Sehingga Jauh dari keterjebakan
reaksi atas suatu aksi dengan Mencemooh konklusi tetapi menerima
premis-premisnya. Kejelian seperti ini diperlukan agar mampu memetakan Al Ana (ego) dan Al akhar
(other) dalam wilayah sosial, ekonomi politik dan kebudayyaan kemudian memunculkan
semangat
Atturas
Wa
tajdid ( tradisi dan pembaruan)
Pada
gilirannya kebanggaan atas tradisi dan keterbukaannya melihat kebutuhan
realitas zaman, melahirkan sebuah elaborasi sikap dan ilmu yang sesuai dengan
kebutuhan masyarakatnya. Dengan berlandaskan pada nilai-nilai islam yang
berketuhanan, berkeadilan dan bersandarkan pada kemaslahatan bersama.
Merunut
semangat di atas, dalam melawan neo imperalis dengan kendaraan ekonomi
politiknya, maka seorang muslim dalam berekonomi tidak lagi condong pada
semangat kapitalistik yang jauh dari keadilan. Karena kesadarannya memberi tahu
bahwa kapitalisme tidak akan tercerabut dari tubuh umat islam Selama masyarakat muslim masih terintegrasi dengan
kapitalisme global. Dalam berpolitikpun tidak lagi menggunakan cara-cara
marchiavelis dengan menghalalkan segala cara. Termasuk Sampai pada melakukan
lompatan-lompatan ideology demi manuver politiknya.
Neo-Imperalism akan selalu masuk dan bercokol Dalam jiwa-jiwa terjajah
yang pragmatis dan kerdil
Refensi:
§ Hasan Hanafi,1989, Aku bagian dari
Fundamentalisme islam
§ Hasan Hasnafi, 1987, Oksidentalisme
§ Thomas khun, revolution sains
§ Arief Budiman, 2000, Teori pembangunan dunia
ketiga
§ Soetopo,…….., kritik gramsci atas pembangunan
dunia ketiga
§ Mubiyarto, 2005, ekonomi pancasila.